Jumat, 12 Desember 2025
Selasa, 09 Desember 2025
Sabtu, 06 Desember 2025
Jumat, 05 Desember 2025
Ciptakan Sekolah Harmonis, Mahasiswa MKWK USU Gelar Aksi Anti-Perundungan di SMPN 7 Medan
Mahasiswa MKWK USU 2025 melakukan foto bersama dengan para siswa dan wakil kepala sekolah SMPN 7 Medan, Sabtu (01/11/2025)
MEDAN – Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Kelompok 02 Perundungan mata kuliah Wawasan Kebangsaan dan Kepemimpinan (MKWK) 2025 telah melaksanakan program sosialisasi anti-perundungan. Kegiatan yang berlangsung di SMP Negeri 7 Medan ini menyasar siswa-siswi kelas VIII-9 dengan mengusung tema "Menuju Generasi Emas Anti-Perundungan: Wujudkan Sekolah Aman dan Harmonis".
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek pembelajaran MKWK yang bertujuan untuk memberikan dampak sosial langsung kepada masyarakat. Kelompok 02 yang beranggotakan 20 mahasiswa ini berada di bawah bimbingan dosen fasilitator, Ibu Syarifah, dan didampingi oleh mentor, Frans Joy Sinuhaji.
Salwa Azzahra, selaku Ketua Kelompok 02, menyatakan bahwa pemilihan tema dan lokasi didasarkan pada urgensi pencegahan perundungan sejak dini di lingkungan sekolah. "Kami ingin berkontribusi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan positif. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran dan keberanian siswa untuk melawan perundungan," ujar Salwa.
Materi sosialisasi disampaikan secara interaktif, mencakup definisi perundungan, jenis-jenisnya (fisik, verbal, sosial, dan siber), serta dampak negatifnya bagi korban maupun pelaku. Para mahasiswa juga memberikan edukasi tentang bagaimana bersikap jika menjadi korban atau saksi perundungan.
Ibu Syarifah, selaku dosen fasilitator, mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menjalankan proyek ini. "Kegiatan ini sangat relevan dengan penguatan karakter generasi muda. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi langsung mengaplikasikan ilmunya untuk memberi solusi atas masalah sosial. Ini adalah implementasi nyata dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan," tutur Ibu Syarifah.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh siswa kelas VIII-9 diajak untuk membuat 'Pohon Komitmen'. Setiap siswa menuliskan janji atau komitmen pribadi mereka untuk tidak melakukan perundungan dan berani bertindak positif di selembar kertas berbentuk daun, yang kemudian ditempelkan pada gambar pohon besar.
Para siswa melakukan kegiatan pohon komitmen di SMPN 7 Medan, Jl. H. Adam Malik No.12, Kecamatan Medan Baru, Sumatera utara, Sabtu (01/11/2025)
"Pohon Komitmen ini menjadi simbol dan pengingat bersama bagi siswa-siswi kelas VIII-9 untuk senantiasa menjaga keharmonisan di kelas dan sekolah. Ini adalah bentuk komitmen nyata mereka untuk stop perundungan," tutup Frans Joy Sinuhaji, mentor kelompok. Diharapkan, program ini dapat menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam mewujudkan SMP Negeri 7 Medan sebagai zona sekolah aman dan harmonis.
Link YouTube : https://youtu.be/SPMW1b9hQa8?si=xneJ3aqedYeOoajn
Kelompok 35 MKWK USU Lakukan Edukasi Pencegahan Perundungan di SMA Swasta Kristen Immanuel Medan
Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Kelompok 35 tema Perundungan Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan edukasi dan sosialisasi pencegahan perundungan di SMA Swasta Kristen Immanuel Medan, Jumat (31/10/2025). Kegiatan ini bertujuan mendorong sekolah sebagai ruang aman melalui perbaikan relasi sosial antarsiswa yang bebas dari praktik perundungan.
Kelompok Proyek MKWK 35 terdiri dari mahasiswa lintas fakultas dan program studi di Universitas Sumatera Utara. Hotasi Nathanael Silalahi, selaku Ketua Kelompok, menjelaskan bahwa masih banyak siswa yang belum sepenuhnya memahami bahwa perundungan, baik verbal, fisik, sosial, maupun digital, dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis dan perkembangan sosial korban.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa perundungan bukanlah hal yang dapat dinormalisasi. Sekolah harus menjadi ruang aman bagi setiap siswa untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang tanpa rasa takut,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan sebagai upaya preventif dalam meningkatkan pemahaman dan kepekaan siswa SMA Swasta Kristen Immanuel Medan terhadap dampak perundungan serta pentingnya menjaga relasi sosial yang sehat. Kegiatan ini didampingi oleh Muhammad Nur Nainggolan, S.S., M.A. selaku Dosen Fasilitator dan Nia Hamlus Sururi Siregar selaku Mentor.
Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti rangkaian pemaparan materi, diskusi interaktif, serta pembahasan studi kasus perundungan yang kerap ditemukan di lingkungan sekolah dan media sosial. Siswa juga diajak untuk memahami peran mereka sebagai agen pencegah perundungan, mulai dari menumbuhkan empati, tidak menjadi pelaku maupun penonton pasif, hingga berani melaporkan tindakan perundungan kepada pihak sekolah.
Pihak SMA Swasta Kristen Immanuel Medan menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini dan menilai program tersebut memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter siswa. Menurut pihak sekolah, edukasi pencegahan perundungan menjadi langkah penting dalam menciptakan iklim belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
“Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu membangun sikap saling menghormati, menjaga perilaku dalam interaksi sehari-hari, serta berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan,” ungkap pihak sekolah.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran MKWK berbasis proyek yang menekankan kolaborasi antara mahasiswa dan mitra sekolah. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang dalam membangun budaya sekolah yang aman sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Hal ini sejalan dengan visi Universitas Sumatera Utara dalam mengembangkan pembelajaran yang unggul, berdaya saing, dan berdampak bagi masyarakat.
Link YouTube : https://youtu.be/tewe7SbyFCk?si=ZA4GereEJ_hGyhPK
Link Instagram : https://www.instagram.com/35_antiperundungan?igsh=bmt4ZmJxamR6c2xx
Kelompok 50 Perundungan Gelar Sosialisasi Anti-Cyberbullying di SMPN 1 MEDAN
Kelompok mahasiswa Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 50 Perundungan Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi mengenai bahaya cyberbullying kepada para siswa SMPN 1 Medan pada Sabtu (01/11/2025). Program ini diselenggarakan untuk meningkatkan literasi digital sekaligus menumbuhkan kesadaran siswa agar mampu menggunakan media sosial secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut diinisiasi sebagai bentuk kepedulian mahasiswa USU terhadap maraknya kasus perundungan daring yang kini banyak terjadi di kalangan pelajar tingkat sekolah menengah pertama. Pesatnya perkembangan teknologi dan semakin luasnya akses media sosial membuat pelajar berada pada posisi rawan, baik sebagai pelaku maupun korban cyberbullying. Kondisi ini mendorong kelompok MKWK 50 untuk menghadirkan edukasi yang bersifat preventif dan berorientasi pada pembentukan karakter digital yang positif.
Sosialisasi berlangsung secara interaktif melalui berbagai metode penyampaian, mulai dari pemaparan materi, sesi kuis, ice breaking, hingga analisis data sederhana mengenai kebiasaan siswa dalam bermedia sosial. Pada sesi inti, para pemateri menyampaikan penjelasan komprehensif mengenai pengertian cyberbullying, jenis-jenis perundungan digital, dampak yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan hubungan sosial korban, faktor penyebab, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan oleh siswa.
Untuk mengukur tingkat pemahaman peserta, panitia membagikan lembar kuesioner yang berisi pertanyaan terkait pola penggunaan media sosial, pengalaman menghadapi perundungan digital, serta kemampuan siswa dalam mengidentifikasi tindakan cyberbullying. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas siswa mulai memahami bahwa unggahan, komentar, maupun aktivitas digital memiliki konsekuensi nyata bagi diri sendiri maupun orang lain.
Ketua pelaksana kegiatan, M. Awwan Al-Ghozzan, menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme siswa selama mengikuti rangkaian sosialisasi ini. “Melalui sosialisasi ini, kami ingin membuka wawasan siswa bahwa tindakan kecil di media sosial dapat membawa dampak besar bagi orang lain. Harapan kami, siswa SMPN 1 Medan mampu menjadi generasi yang lebih sadar digital, saling menghargai, dan tidak mudah terpengaruh ajakan untuk melakukan perundungan. Edukasi seperti ini penting agar mereka memahami risiko, sekaligus mampu melindungi diri dan teman-temannya di dunia maya,” ujarnya.
Para guru dan pihak sekolah menyambut positif kegiatan ini karena dinilai mampu memberikan pemahaman yang lebih konkret kepada siswa mengenai pentingnya etika digital dan pencegahan perundungan. Antusiasme siswa juga terlihat dari keterlibatan aktif mereka saat sesi diskusi, tanya jawab, dan kuis.
Melalui terlaksananya kegiatan ini, Kelompok 50 MKWK USU berharap bahwa siswa SMPN 1 Medan dapat menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak, berhati-hati, dan mampu menciptakan ruang digital yang aman serta bebas dari perundungan. Para mahasiswa menegaskan bahwa cyberbullying bukan hanya sekadar perilaku tidak menyenangkan, tetapi tindakan yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan psikologis dan sosial seseorang. Dengan demikian, edukasi dan kesadaran digital perlu terus ditingkatkan agar generasi muda mampu menghadapi dinamika dunia maya secara dewasa dan bertanggung jawab.
Tulisan ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK 50 Perundangan USU dalam kegiatan sosialisasi anti perundungan yg dihampiri mentor Naufal Daffa Ryanza.
Link YouTube : https://youtu.be/KIhGMEvsrnY?si=RAHGHA3jROD67zun
Mahasiswa USU Adakan Edukasi Mencegah Kenakalan Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Karakter Siswa
Kelompok MKWK Pendidikan Berkualitas 59 terdiri atas 20 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi di USU. Ihsanul Fahmi Hasibuan, selaku Ketua Kelompok, menjelaskan bahwa masih banyak pihak sekolah yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya pembentukan karakter sejak dini pada siswa sekolah dasar. Karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat membantu memperkuat nilai-nilai positif pada siswa SD Negeri Percobaan Medan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan kesadaran pihak sekolah tentang pentingnya pendidikan karakter untuk mencegah kenakalan anak usia dini. Kolaborasi antara mahasiswa dan siswa diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai luhur sejak awal. Namun, efektivitas pendidikan karakter tetap bergantung pada keteladanan guru sebagai panutan utama di sekolah,” ujarnya.
Kegiatan edukasi ini menekankan integrasi pembelajaran karakter yang aktif dan kreatif, dengan fokus pada penguatan nilai dasar seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan empati. Proses pelaksanaan juga didampingi oleh mentor, Aufa Khairunnisa.
Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti pemaparan materi yang disampaikan menggunakan metode yang disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak serta bahasa yang mudah dipahami. Setelah penyampaian materi, siswa diajak berpartisipasi dengan menyampaikan kembali pemahaman mereka terkait nilai-nilai karakter yang dibahas. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan permainan edukatif yang membantu siswa tetap aktif dan memperkuat pemahaman mereka terhadap materi. Selain itu, panitia juga memberikan apresiasi kepada siswa yang aktif sebagai bentuk motivasi agar mereka lebih berani, percaya diri, dan antusias dalam mengikuti kegiatan.
Kepala Sekolah SD Negeri Percobaan Medan, Ermansyah S.Pd., M.Pd., menyambut baik program tersebut dan menilai kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pembentukan karakter siswa. “Program ini sangat berguna bagi anak-anak seusia mereka. Karakter memang harus dibangun sejak dini untuk mencegah berbagai bentuk kenakalan yang marak terjadi. Program seperti ini tentu memberi dampak positif bagi perkembangan siswa. Kami berharap semakin banyak kegiatan serupa yang hadir di sekolah kami,” ungkapnya.
Melalui proyek ini, Kelompok MKWK Pendidikan Berkualitas 59 berharap dapat memberikan fondasi karakter yang kuat sebagai benteng utama dalam mencegah kenakalan remaja di masa mendatang. Kelompok ini juga berkomitmen untuk terus memonitor dan mengevaluasi dampak jangka panjang dari modul pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah tersebut.
Link YouTube : https://youtu.be/mzt7BROcR6E?si=OGvZ74NIIZtJ2bvw
Penerapan Strategi 3M oleh Mahasiswa USU di Panti Asuhan Anak Dirman Indonesia
Medan - Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Kelompok 63 Pendidikan Berkualitas melaksanakan proyek pembelajaran MKWK berupa program peningkatan literasi berbasis metode Strategi 3M (Mendengarkan, Memahami, Menyampaikan) di Panti Asuhan Anak Dirman Indonesia, Kota Medan, pada Minggu (2/11/2025). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan minat membaca anak panti melalui aktivitas belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan.
Pendidikan Berkualitas Kelompok 63 terdiri dari 20 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, dengan Reva Naomi Erika Akrisla Napitupulu selaku ketua kelompok. Kegiatan ini dibimbing oleh Dr. Simson Ginting, S.Sos., MPA, serta Vianova Kania selaku mentor Pendidikan Berkualitas Kelompok 63. Melalui proyek MKWK berbasis Design Thinking, mahasiswa Kelompok 63 Pendidikan Berkualitas merancang solusi bertahap untuk meningkatkan minat baca anak melalui pendekatan 3M.
“Dalam kegiatan MKWK ini, adik-adik mentee saya menerapkan strategi 3M yaitu mendengarkan, memahami, dan menyampaikan. Mereka menyesuaikan cara penyampaian materi dengan kebutuhan anak-anak panti, sehingga kegiatan literasi menjadi lebih hangat, mudah diikuti, dan membuat anak-anak lebih percaya diri untuk mencoba,” ujar Vianova Kania, mentor Pendidikan Berkualitas kelompok 63.
Rendahnya minat literasi menjadi alasan utama kelompok ini merancang kegiatan strategi 3M di panti Asuhan Anak Dirman Indonesia, mengingat panti tersebut masih mengalami keterbatasan fasilitas pendukung literasi. Berdasarkan survei awal kelompok, minat membaca anak-anak Panti Asuhan Dirman Indonesia hanya berada di sekitar 40%, dipengaruhi oleh kurangnya bahan bacaan, minimnya dukungan, serta belum adanya kegiatan literasi terjadwal.
Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 2 November 2025. Mahasiswa membuka acara dengan sosialisasi literasi dan permainan ice breaking untuk membangun antusias anak-anak. Setelah itu, anak-anak menonton video cerita rakyat dan mengikuti sesi tanya jawab. Kegiatan berlanjut dengan membaca buku sesuai usia, lalu menceritakan kembali isi bacaan sebagai penerapan Strategi 3M. Di akhir kegiatan, mahasiswa memberikan hadiah untuk peserta aktif dan menyerahkan donasi berupa buku bacaan, alat tulis, serta rak buku kepada pihak panti.
Berdasarkan pengamatan dan keterangan kepala panti serta pengurus panti, sekitar setengah lebih dari anak-anak mulai menunjukkan peningkatan minat membaca, terutama anak-anak tingkat SD yang lebih rutin membaca pada siang dan malam hari. Selain itu, area penyimpanan buku menjadi lebih rapi setelah dilakukan penataan bersama mahasiswa. Sementara itu, perubahan dalam kebiasaan bertutur kata belum terlihat signifikan, namun kegiatan ini dinilai memberikan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan bagi anak-anak.
Istri Kepala Panti Asuhan Dirman Indonesia, yang turut mendampingi selama kegiatan, menyampaikan apresiasi atas program ini. “Setelah kakak-kakak datang, anak-anak bilang mereka senang. Sekitar setengah lebih dari mereka mulai rutin membaca pada siang setelah pulang sekolah dan malam hari, terutama anak-anak yang masih SD. Kegiatannya bagus dan banyak yang bisa mereka pelajari,” ungkapnya.
Kegiatan Strategi 3M diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi di Panti Asuhan Anak Dirman Indonesia. Dengan kolaborasi bersama mahasiswa, pengasuh, dan masyarakat, program ini diharapkan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang terhadap penguatan pendidikan anak-anak panti.
Link YouTube : https://youtu.be/wJSit9EsBGQ?si=Ty4FBnquB-FU2eFn
Link Instagram : https://www.instagram.com/eduforce.63?igsh=cno0Mm4xZDJoNjZi
Kelompok MKWK Kesetaraan Gender 03 USU Laksanakan Sosialisasi Kesetaraan Gender di SMA Raksana Medan
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) Kelompok Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Kesetaraan Gender 03 yang terdiri dari 19 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan program studi di Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil melaksanakan proyek pembelajaran MKWK berbasis proyek dengan tema “Melawan Stereotipe dan Meningkatkan Inklusivitas”. Kegiatan ini dilaksanakan di SMA Raksana, Kecamatan Medan Baru, Sabtu (8/11/2025).
Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian dari pembelajaran MKWK berbasis proyek 2025. Dilansir dari usu.ac.id, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Perkuliahan (PP) Laboratorium Unit Dasar dan Umum (LIDA), Prof. Dr. Timbangen Sembiring, M.Sc. dalam kuliah umum MKWK pada 23-24 September 2024 menjelaskan bahwa pembelajaran MKWK yang mencakup materi tentang keagamaan, wawasan kebangsaan, dan kearifan lokal, memainkan peran penting dalam mengembangkan wawasan mahasiswa.
Prof. Dr. Timbangen berharap, melalui mata kuliah ini, mahasiswa mampu memahami dan menghargai nilai-nilai dasar yang melekat pada kebudayaan, agama, dan tradisi masyarakat Indonesia yang beragam. “MKWK tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, menanamkan etika, serta memperkuat pemahaman terhadap pancasila, kewarganegaraan, agama, dan budaya Indonesia,” jelasnya.
Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai kesetaraan gender kepada para siswa-siswi SMA Raksana, sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dalam membangun sikap saling menghargai tanpa memandang gender, memahami peran yang setara. Menghilangkan stereotipe dan bias gender yang dapat membatasi potensi seseorang dan memperkuat rasa kebersamaan tanpa memandang perbedaan gender.
Materi yang disampaikan berkaitan dengan kesetaraan gender, yakni bagaimana laki-laki dan perempuan harus punya kesempatan yang sama dalam belajar, bekerja, dan berpendapat. Selain itu, sosialisasi ini juga turut membahas pentingnya melawan stereotipe, seperti anggapan bahwa hanya laki-laki yang bisa memimpin atau perempuan yang harus selalu lembut. Dengan mengubah cara pikir seperti itu, semua orang bisa merasa diterima dan dihargai.
Hasil yang diharapkan melalui sosialisasi ini adalah meningkatnya pemahaman siswa siswi SMA Raksana mengenai pentingnya saling menghargai dan mendukung satu sama lain, agar tercipta lingkungan yang adil dan inklusif bagi semua. Selain itu, melalui proyek MKWK ini, kelompok 03 Kesetaraan Gender juga turut menghasilkan berbagai luaran, seperti proposal awal proyek, akun sosial media Instagram, video YouTube, dan proposal akhir proyek.
Salah satu siswi SMA Raksana yang mengikuti sosialisasi, Ezra Merdina, menyatakan bahwa sejak mengikuti sosialisasi, dirinya menyadari bahwa kesetaraan gender sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. “Melalui materi yang disampaikan oleh kakak-kakak pemateri, saya melihat bahwa perlakuan adil antara laki-laki dan perempuan perlu diterapkan dalam sikap dan kebiasaan kita, bukan hanya sekadar teori. Saya berharap nilai kesetaraan gender bisa diterapkan dengan baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat, agar semua orang dapat belajar dan berkembang tanpa diskriminasi,” jelasnya.
Link YouTube : https://youtu.be/DCVWa_QC92A?si=PJSOVXgjbY9n6x65
Link Instagram : https://www.instagram.com/genqualize_/
Cegah Perundungan Digital, Kelompok MKWK USU Sosialisasi Cyberbullying di SMP Sultan Iskandar Muda
Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Perundungan 82 Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan Sosialisasi dan Edukasi Pemahaman Cyberbullying Guna Peningkatan Karakter di SMP Sultan Iskandar Muda Medan, Sabtu (1/11/2025).
Sebanyak 20 mahasiswa dan mahasiswi Universitas Sumatera Utara dari berbagai lintas fakultas dan program studi yang tergabung dalam Kelompok Proyek 82 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Topik Perundungan telah melaksanakan proyek turun lapangan dalam aksi edukasi Anti-Perundungan di SMP Sultan Iskandar Muda Medan.
Kelompok 82 telah berhasil menyelenggarakan sosialisasi di SMP Sultan Iskandar Muda dengan lancar dan menyampaikan bahasan yang berfokus pada materi pencegahan cyberbullying dan penguatan literasi digital di kalangan pelajar SMP Sultan Iskandar Muda.
Vicha Aprilyanci, selaku Ketua Kelompok Proyek 82, menjelaskan bahwa motivasi kelompok ini dalam menyelenggarakan kegiatan sosialisasi tersebut didasarkan oleh kekhawatiran atas meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan pelajar yang belum sepenuhnya diiringi dengan pemanfaatan yang bijak, sehingga memerlukan perhatian agar media sosial tidak menjadi aksi melakukan perundungan secara digital. "Kondisi ini terlihat dari masih maraknya kasus cyberbullying yang terjadi di berbagai platform digital. Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital dan etika dalam berkomunikasi secara daring di kalangan siswa dan siswi SMP masih perlu diperkuat agar membentuk karakter sebagai pelajar yang berpendidikan," ujar Vicha
Sementara itu, perwakilan dari pihak sekolah pun turut menyambut baik inisiatif dari sosialisasi ini, pihak sekolah menilai bahwa peran mahasiswa menjadi hal yang penting dalam menjembatani pengetahuan digital yang relevan bagi generasi muda.
Sosialisasi yang berlangsung interaktif tersebut membawakan materi utama mengenai dampak psikologis dan hukum dari perundungan, baik secara langsung maupun daring. Para mahasiswa memaparkan cara-cara efektif dalam menggunakan media sosial, mengidentifikasi konten yang berpotensi hoax atau provokatif, serta mekanisme pelaporan jika menjadi korban cyberbullying. Sesi tersebut juga melibatkan role-playing untuk mensimulasikan situasi pencegahan perundungan di sekolah. Kelompok 82 Anti Perundungan berharap melalui kegiatan ini, siswa-siswi SMP Sultan Iskandar Muda tidak hanya terhindar dari perilaku perundungan, tetapi juga dapat menjadi generasi perubahan yang menyebarkan sikap positif dan nyaman di lingkungan sekolah.
Link YouTube : https://youtu.be/hq3zEfGW5Pk?si=OFFIOy8TAIHnl37S
Link Instagram : https://www.instagram.com/reel/DRtQPsvAUz7/?igsh=YmdjeDUzeXkxbzVi
Meningkatkan Kesadaran Kesetaraan Gender pada Siswa di SMAN 12 Medan
Kelompok siswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 18 Kesetaraan Gender Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil mengadakan edukasi dan pelatihan kesadaran kesetaraan gender di SMAN 12 Medan, Senin (20/10/2025). Program ini bertujuan untuk mengatasi stereotip gender yang masih melekat di lingkungan sekolah maupun masyarakat dan sekaligus berhasil meningkatkan pemahaman siswa melalui metode berbasis potensi lokal.
Kelompok Proyek 18 Kesetaraan Gender terdiri dari 19 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan program studi di USU. R. Naomi Mutiara Simamora, Yolanda Keyla Oktaviani Purba, dan Suthan Mahdan selaku pemateri, menjelaskan bahwa diketahui banyak siswa belum memahami sepenuhnya stereotip gender yang masih melekat di masyarakat. Oleh karenanya, kegiatan ini memberi manfaat dalam meningkatkan keterampilan dan kesadaran siswa SMAN 12 dan masyarakat di Medan.
“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa kesetaraan gender dapat diwujudkan melalui pendidikan interaktif, diskusi, dan simulasi peran yang melibatkan potensi lokal seperti cerita rakyat dan budaya Sumatera Utara. Dengan adanya kerja sama antara mahasiswa dan siswa, kami berharap program ini dapat memberi dampak berkelanjutan bagi peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian sosial masyarakat sekitar,” ujar Naomi.
Program ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan siswa SMAN 12 Medan dalam memahami serta menerapkan kesetaraan gender di lingkungan mereka. Kegiatan ini didampingi oleh Drs. Jamorlan Siahaan, M.Hum selaku dosen pembimbing dan Noor Assyifa selaku mentor.
Kelompok Kesetaraan Gender ini dibagi menjadi dua bagian untuk mempermudah dan efesiensi waktu bagi siswa SMAN 12 Medan. Kegiatan dimulai dengan pemaparan materi oleh pemateri. Pada sesi tanya jawab memungkinkan siswa seperti Andika Simanungkalit berbagi pandangan dan mendapatkan wawasan langsung. Evaluasi dilakukan melalui permainan menyusun puzzle yang telah dipersiapkan oleh anggota kelompok Kesetaraan Gender 18.
Kepala Sekolah SMAN 12 Medan, Theresia Sinaga, menyambut baik dan merasa program tersebut sangat bermanfaat. “Selama ini, mereka tidak tahu adanya potensi kesetaraan gender dari hasil lokal yang ada di sekitaran lingkungan mereka. Dengan adanya peluang ini, kami berharap mereka dapat memiliki pemahaman yang lebih baik dan berkontribusi lebih besar bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia sekaligus berharap, program ini dapat membantu siswa SMAN 12 Medan dalam memahami potensi kesetaraan gender. Memiliki keterampilan berpikir kritis yang dapat membantu peningkatan kesadaran sosial, serta memperkuat harmoni masyarakat.
Kegiatan ini juga berhasil menarik partisipasi aktif dari sekitar 65 siswa, dengan testimoni positif seperti dari Andika Simanungkalit: "Sekarang saya paham bahwa kesetaraan gender bukan hanya teori, tapi harus diterapkan sehari-hari."
Link YouTube : https://youtu.be/yLTQwCEg_Ms?si=37G3_Nmck0kT2w4A
Proyek MKWK Pendidikan Berkualitas Kelompok 2 Melakukan Sosialisasi Dengan Tajuk “Karakter Positif,Generasi Kreatif”
Medan—Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Kelompok 2 MKWK Pendidikan Berkualitas yang diketuai oleh M.Adhitya Fathir Harahap besesrta anggota divisi lainnya, berhasil melaksanakan proyek sosialisasi bertema“Karakter Positif, Generasi Kreatif” di MTs Al-Jihad Medan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pemenuhan tugas mata kuliah wajib kurikulum.Mengusung tajuk“Karakter Positif,Generasi Kreatif, ini bertujuan menanamkan nilai karakter positif serta mendorong kreativitas generasi muda melalui pembelajaran interaktif, diskusi, dan games edukatif.Demikian juga kelompok 2 MKWK Pendidikan Berkualitas USU melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan ssaran target merupakan siswa siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama atau generasi muda.
Pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 menuntut siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki karakter positif serta kreativitas tinggi. Berangkat dari tantangan tersebut, kelompok 2 MKWK Pendidikan Berkualitas USU memilih focus pada pembentukan karakter seperti disiplin, jujur, kerja sama, dan tanggung jawab serta mengintegrasikannya dengan kreativitas siswa.
Kegiatan dilaksanakan di MTs Al-Jihad Medan pada Sabtu (1/11/25) dan diikuti oleh 25 orang siswa-siswi kelas VII-1,Rangkaian kegiatan meliputi:
∙ Penyampaian materi mengenai karakter positif dan pentingnya kreativitas dalam kehidupan siswa.
∙ Diskusi dan tanya jawab mengenai contoh karakter sehari-hari. ∙ Games edukatif dan ice breaking yang meningkatkan antusiasme para siswa dan siswi.
∙ Pengisian kuesioner untuk mengukur pemahaman siswa dan siswi ∙ Pembagian hadiah dan snack sebagai bentuk apresiasi kepada siswa dan siswi.
Kelompok juga mempersiapkan spanduk, video dokumentasi, serta kuesioner terstruktur untuk mendukung proses edukasi.
(Dokumentasi saat sosialisasi)
Lewat sosialisasi yang menggunakan metode kuantitatif kuesioner. maka,diperoleh hasil kuesioner yang menunjukkan respon sangat positif:
∙ 85% siswa menyatakan cukup paham hubungan antara karakter dan kreativitas.
∙ 100% siswa merasa sangat termotivasi untuk menjadi pribadi berkarakter dan kreatif.
∙ 95% siswa menyukai materi dan kegiatan, baik penyampaian maupun ice breaking.
∙ Nilai karakter yang paling dianggap penting oleh siswa adalah jujur (85%).
∙ Sebanyak 50% siswa berkomitmen memperbaiki kedisiplinan dan 50% lainnya ingin menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Data ini menunjukkan bahwa sosialisasi tidak hanya dipahami, tetapi juga menggerakkan perubahan perilaku yang diharapkan.
Program ini berlangsung dengan dukungan penuh dari pihak sekolah, dosen fasilitator Drs. Parlaungan Ritonga, M.Hum., serta mentor Sarah Sabrina Silalahi. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung.
Drs. Parlaungan Ritonga, M.Hum.,selaku dosen fasilitator menyatakan “Kegiatan MKWK seperti ini penting untuk membangun karakter siswa sejak dini. Pembelajaran tidak hanya soal nilai, tetapi bagaimana siswa menjadi manusia yang jujur, kreatif, dan bertanggung jawab.”
Ketua Kelompok, M. Adhitya Fathir Harahap menjelaskan bahwa kegiatan ini memang ditujukkan ditujukkan untuk anak muda khususnya dikalangan Tingkat Sekolah Menengah Pertama. “Kami senang siswa MTs Al-Jihad sangat aktif. Tujuan kami bukan hanya memberi materi, tetapi membangun kebiasaan positif yang bisa mereka terapkan setiap hari.”
Sejalan dengan tujuan tersebut, Kepala Sekolah MTs Al-Jihad, Bapak Rinto Hermawan S.Ag menjelaskan bahwa mereka secara terbuka menyambut ajakan kerjasama kegiatan sosialisasi tentang heritage ini karena menilai kegiatan ini akan sangat bermanfaat kedepannya. “Kami menerima ajakan sosialisasi karena kami berpikir kegiatan ini akan bermanfaat untuk anak-anak sehingga menambah wawasan anak-anak serta bagaimana membangun karakter dimasa depan sehingga kami berminat bekerja sama dengan dalam hal ini dengan Mahasiswa USU”. Beliau juga menjelaskan kegiatan ini diterima untuk anak-anak MTs Al-Jihad “Kami juga menilai pentingnya mendukung nilai-nilai karakter yang disampaikan sehingga kegiatan ini akan bermanfaat bagi anak-anak untuk bersikap kedepannya”.
Kegiatan sosialisasi “Karakter Positif, Generasi Kreatif” ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi siswa MTs Al-Jihad Medan dalam membangun karakter yang kuat dan kreativitas yang relevan dengan tuntutan zaman. Program MKWK ini juga menjadi bukti komitmen USU dalam berkontribusi nyata terhadap pendidikan masyarakat dan penguatan nilai-nilai pembelajaran holistik.
Sosialisasi Anti Perundungan oleh Kelompok MKWK 127 Berdampak Langsung pada Perubahan Perilaku Siswa SMAS Harapan 3
Kelompok MKWK 127 “Perundungan” USU saat melakukan sosialisasi anti perundungan kepada siswa SMAS Harapan 3, Sabtu (25/10/2025).
MEDAN — Kelompok MKWK 127 Tanpa Perundungan yang terdiri dari 20 mahasiswa dan diketuai oleh Bagus Satriana melaksanakan sosialisasi anti perundungan di SMAS Harapan 3 Medan pada Sabtu, 25 Oktober 2025 pukul 09.00 WIB. Kegiatan yang merupakan bagian dari proyek MKWK ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya bullying serta menumbuhkan sikap empati, keberanian, dan kepedulian dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Materi yang disampaikan mencakup definisi perundungan, bentuk-bentuk bullying, serta dampak negatif yang ditimbulkan. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab berhadiah dan ice breaking yang menambah antusiasme para siswa. Pada sesi lanjutan, anggota kelompok membagikan kertas note kepada siswa untuk diisi secara anonim mengenai pengalaman mereka terkait perundungan. Hasilnya menunjukkan bahwa 35 siswa belum pernah mengalami bullying, sementara 13 siswa mengaku pernah menjadi korban, baik dalam bentuk ejekan, hinaan, tatapan sinis, maupun pengucilan. Data ini memperlihatkan bahwa masih ada siswa yang membutuhkan dukungan emosional serta lingkungan yang lebih aman.
Pihak sekolah menilai kegiatan ini berjalan efektif. Kepala Sekolah SMAS Harapan 3, Surya Hadi Marwan, M.Pd, menyampaikan apresiasinya.
“Kami sangat mengapresiasi sosialisasi perundungan yang telah dilakukan. Kegiatan ini berjalan dengan baik, penyampaiannya jelas, dan dapat diterima oleh siswa. Materi yang disampaikan juga relevan dengan kondisi di sekolah sehingga membantu meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman,” ujarnya.
Salah satu guru, Sulton, S.T, juga menilai bahwa kegiatan tersebut memberikan dampak nyata.
“Siswa menjadi lebih sadar mengenai tindakan yang termasuk perundungan dan memahami konsekuensinya. Mereka terlihat lebih peka dan berhati-hati dalam berperilaku setelah mengikuti kegiatan ini,” tuturnya.
Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keberanian siswa untuk melapor jika melihat atau mengalami perundungan. Selain itu, rasa empati dan kepedulian antar-siswa juga meningkat, terlihat dari interaksi yang lebih positif setelah sosialisasi berlangsung.
Ketua kelompok, Bagus Satriana, mewakili seluruh anggota kelompok 127, turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak sekolah.
“Kami berterima kasih kepada SMAS Harapan 3 Medan karena telah menerima kami dengan baik. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi siswa dan dapat membantu mencegah kasus perundungan di sekolah,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk budaya sekolah yang bebas dari perundungan dan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter siswa. Pihak sekolah juga berkomitmen melanjutkan program anti perundungan secara berkelanjutan melalui kegiatan rutin setiap semester, seperti bimbingan, lokakarya karakter, dan pelatihan empati. Sistem pelaporan anonim dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan parenting juga akan diperkuat agar pencegahan berjalan lebih holistik.
Selain memberikan kontribusi kepada sekolah, kegiatan ini selaras dengan visi USU yang membentuk mahasiswa beriman, inovatif, arif, dan tangguh. Melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat, mahasiswa belajar bagaimana membangun hubungan komunikatif dan empatik agar pesan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Pengalaman ini menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa mengenai cara menyampaikan edukasi sosial secara efektif, kolaboratif, dan penuh tanggung jawab.
Dengan telah terlaksananya kegiatan sosialisasi ini, kelompok perundungan 127 berharap program ini dapat berkembang menjadi model pembelajaran yang berkelanjutan di USU. Melalui keberlanjutan program yang serupa, USU diharapkan semakin mampu memperkuat perannya dalam pembangunan sosial masyarakat serta memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan generasi muda, khususnya dalam proses penanganan tindakan bullying di masa mendatang.
Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan sosialisasi, yakni Christian Nicolas Nadeak (250200226), Christian Bungaran Natanael Sihombing (250200499), Ravendo Sitanggang (250301196), Bagus Satriana (250304144), Adven Michael Lamhosma Sinambela (250308060), Feby Christania (250403051), Purwanditya Cahyani (250406085), Fariz Ahmad Al Naik (250502100), Kevin Christian Sinaga (250503210), Young Mico Fuji (250705040), Alika Zahra Nasution (250709057), Nazwa Hafizah Saragih (250805031), Zaskia Assyifa Dira Aritonang (250903040), Daniel Hotmanson Damanik (250905098), Elvika Khairunnisa Harahap (251000058), Nathan Christofer Sipayung (251000372), Patuan Rizqi Al Syahidan Lubis (251201580), Tiolasri Elzazemina Siahaan (251301148), Albario Deanda Tarigan (251402037), dan Gayus Simanjuntak (250200239).
Tulisan ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK 127 Perundungan USU dalam kegiatan sosialisasi anti perundungan, yang didampingi oleh:
Mentor: Hekshanda Jou Pandiangan (240503103)
Pembimbing: Prof. Dr. Rinawaty Sinulingga, S.Th, M.Th
Link YouTube : https://www.youtube.com/watch?v=nfHwK_4sRhM
Link Instagram : https://www.instagram.com/perundungan127_?igsh=MTI1Z2Q1bHZzMnozZg==
Kamis, 04 Desember 2025
Kelompok MKWK 03 USU Adakan Program “Sembako Edukatif” untuk Pekerja Kasar di Marelan
Kelompok 03 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan program bertajuk “Sembako Edukatif: Gerakan Pangan dan Edukasi Gizi” di Kecamatan Marelan. Kegiatan ini ditujukan bagi para pekerja kasar yang rentan mengalami kekurangan gizi akibat pola makan tidak teratur dan keterbatasan ekonomi.
Sebanyak 21 mahasiswa terlibat dalam kegiatan yang berfokus pada dua agenda utama: pembagian paket sembako bernutrisi dan edukasi mengenai konsumsi makanan sehat dengan harga terjangkau. Dalam sesi penyuluhan, mahasiswa memaparkan cara memilih bahan makanan bernutrisi serta memberikan lembar informasi gizi sederhana agar warga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“kalau tidak ada pangan yang mahal, yang murah pun ada” ucap salah seorang warga yang sempat di wawancara oleh kelompok. Pernyataan tersebut sebagai aksi nyata kesadaran warga atas pangan alternatif yang mudah untuk di akses. Dosen pengampu MKWK menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata kontribusi mahasiswa terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 2, yaitu Tanpa Kelaparan. “Mahasiswa tidak hanya memberikan bantuan pangan, tetapi juga pengetahuan agar masyarakat bisa mengambil keputusan yang lebih baik terkait konsumsi harian,” ujarnya.
Warga Marelan menyambut baik program ini karena edukasi gizi jarang menyentuh kelompok pekerja kasar. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kebutuhan nutrisi serta menumbuhkan kebiasaan makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Tulisan ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK Tanpa Kelaparan 03 USU dalam Program “Sembako Edukatif”, yang didampingi oleh Mentor:Alya Salsabila Harahap, dan Dosen Pembimbing: Dr. Drs. Edi Sumarno, M.Hum.
Link Instagram : -
PEMBELAJARAN MKWK BERBASIS PROYEK USU; TRANSFORMASI PENDIDIKAN BERKUALITAS DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL
Di era globalisasi saat ini, dunia dihadapkan dengan kemajuan teknologi yang sangat membantu aktivitas manusia. Kini, hanya dengan bantuan koneksi internet dan handphone dalam genggaman, manusia dapat menerima berbagai informasi. Hal tersebut tentu saja mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan, terutama di Indonesia. Saat ini, siswa dapat dengan mudah mencari informasi – bahkan jawaban dari tugas yang diberikan dengan bantukan Artificial Intelegence. Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah penggunaan AI tersebut dapat meningkatkan kualitas belajar siswa atau justru membuat siswa semakin malas untuk berpikir kritis karena mudahnya bantuan yang didapatkannya?
Pertanyaan tersebut menjadi alasan dilakukannya kegiatan sosialisasi Kelompok 50 MKWK di Global Prima National Plus School. Dari survei awal yang dilakukan, sudah terlihat banyak siswa yang menggunakan bantuan AI tanpa pemahaman mengenai batasan etis dalam menggunakannya.
Artikel ini ditulis guna memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan berkualitas meskipun di dalam era global, menjelaskan berbagai tantangan yang ditemukan dalam penggunaan AI serta memaparkan hasil sosialisasi yang telah dilakukan di Global Prima National Plus School.
MASALAH YANG DITEMPUH DALAM PENDIDIKAN MASA KINI
Dari survei yang kami lakukan, menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Beberapa diantaranya, siswa terlalu bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami materinya, adanya ketimpangan akses teknologi antara siswa yang dapat memperlebar kesenjangan pendidikan, minimnya literasi digital sehingga siswa sulit membedakan penggunaan AI yang benar dan salah, perkembangan global yang begitu cepat tidak selalu diimbangi kesiapan sekolah dalam menerapkan pembelajaran berbasis teknologi.
KONSEP PENDIDIKAN BERKUALITAS
Dalam teori pendidikan modern, pendidikan berkualitas sebenarnya bukan hanya tentang prestasi akademik, menurut konsep yang digunakan dalam laporan, pendidikan harus mendorong perkembangan pengetahuan, keterampilan, karakter, kreativitas, dan kemampuan adaptasi. UNESCO mengusung empat pilar yang berupa, learning to know. Learning to do, learning to be, learning to live together.
Pendidikan harus mencetak pembelajar aktif yang mampu berpikir kritis, bukan hanya menerima jawaban dari sistem. Jika dikaitkan dengan perkembangan AL, muncul pertanyaan reflektif “Apakah AI akan menjadi alat pemberdaya, atau justru alat yang membuat siswa berhenti berpikir?”.
HASIL SOSIALISASI : RESPON DAN DAMPAK
Kegiatan yang dilaksakan pada 11 November 2025 berjalan dengan antusiasme tinggi. Siswa aktif bertanya mengenai cara memakai AI secara aman, etis, dan produktif. Mereka tertarik memahami bagaimana membedakan “bantuan belajar” dan “kecurangan akademik”. Meskipun proyektor kelas tidak dapat digunakan, sosialisasi tetap berlangsung menggunakan laptop dan komunikasi langsung.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting, “apakah setiap sekolah sudah memiliki fasilitas teknologi yang memadai untuk mendukung pembelajaran modern?” meskipun begitu, para guru pendamping menilai bahwa materi sosialisasi sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa siswa sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka hanya membutuhkan arahan yang tepat untuk menggunakan teknologi secara benar.
SOLUSI YANG DITAWARKAN
Adapun solusi yang dapat digunakan untuk para siswa, berupa menggunakan AI sebagai alat bantu memahami materi, bukan sebagai mesin pemberi jawaban instan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan membaca, menganalisis dan mengerjakan tugas secara mandiri, juga meningkatkan literasi digital agar mampu membedakan sumber informasi yang valid dan tidak valid.
Sedangkan solusi untuk sekolah sebagai ladang mendapatkan pendidikan adalah menghadirkan guru yang kompeten dalam pembelajaran berbasis teknologi, menyusun kurikulum adaptif yang mengintegrasikan pemanfaatan AI secara tepat, memberikan pelatihan literasi teknologi bagi para siswa dan guru, seta menyediakan fasilitas memadai seperti jaringan internet stabil dan perangkat pendukung. Dengan solusi yang diberikan menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan pendidikan berkualitas di era digital.
KESIMPULAN
Sosialisasi “Transformasi Pendidikan Berkualitas di Tengah Tantangan Global” menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat yang luar biasa dalam meningkatkan mutu pendidikan, asalkan digunakan dengan tanggung jawab. Kegiatan ini membuka wawasan siswa mengenai pentingnya etika digital, integrasi akademik, dan kemampuan berpikir kritis.
Namun, pertanyaan besar tetap tersisa “apakah sekolah-sekolah di Indonesia siap bertransformasi menghadapi tantangan global? Dan apakah siswa mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menggunakannya?”. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan kualitas pendidikan Indonesia.
Rabu, 03 Desember 2025
Mahasiswa MKWK USU Gelar Sosialisasi Literasi di Panti Asuhan Samoni Kasih
Medan, pada Minggu, 19 Oktober 2025 — Kelompok 37 Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Pendidikan Berkualitas Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan sosialisasi literasi di Panti Asuhan Samoni Kasih, yang berlokasi di Jl. Harmonika No.65, Titi Rantai, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara. Program ini bertujuan meningkatkan akses literasi bagi anak-anak panti sebagai bentuk dukungan terhadap SDG 4: Quality Education.
Ketua Kelompok 37, Muhammad Raffi Ghifari Razly, menjelaskan bahwa literasi dipilih sebagai fokus kegiatan karena masih banyak anak-anak panti yang memiliki keterbatasan akses informasi. “Kami melihat bahwa anak-anak di panti membutuhkan pendampingan untuk memahami manfaat literasi, tidak sekadar membaca. Itulah sebabnya kami mengangkat tema ini sebagai bentuk kontribusi terhadap tujuan MKWK dan SDGs di bidang Pendidikan Berkualitas.” ujarnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan, mahasiswa menyampaikan dua materi utama: pengertian literasi dan urgensi literasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk meningkatkan pemahaman, empati, dan kemampuan kognitif, mereka juga menerapkan metode interaktif, seperti membaca cerita lalu menceritakannya kembali, serta permainan edukatif berupa puzzle literasi yang dirancang untuk melatih kemampuan mengolah informasi. Pendekatan ini menjadi inovasi kelompok agar proses belajar terasa menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Pengurus Panti Asuhan Samoni Kasih, Ibu Yuli, menyambut baik kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa meskipun kegiatan membaca sudah rutin dilakukan, anak-anak masih belum memahami esensi literasi. “Selama ini mereka hanya membaca sebagai rutinitas. Setelah kegiatan ini, mereka mulai mengerti bahwa literasi itu penting untuk membuka wawasan,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa banyaknya jenis buku dan media bacaan sering membuat anak-anak kebingungan dalam memilih bahan bacaan yang sesuai. “Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa, mereka jadi lebih terarah dan semakin rajin membaca.” tambahnya.
Kegiatan ini didampingi oleh dosen pembimbing Suradi, S.Pd., S.Ag., dan mentor Susan Jong. Kelompok 37 berharap program literasi tersebut dapat terus berlanjut dan mendorong anak-anak panti untuk lebih percaya diri dalam proses belajar dan kegiatan membaca.
Link Instagram : https://www.instagram.com/thefuture.lit?igsh=a2prOWNna2luajFz
Pojok Baca dan Karya: Benteng Karakter Siswa Melawan Tiga Dosa Besar Pendidikan
Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 39 Pendidikan Berkualitas Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan program Pojok Baca dan Karya sebagai upaya meningkatkan minat baca dan kreativitas siswa di SMP Yayasan Pendidikan Nur Hasanah, Medan. Kegiatan ini dilakukan melalui sosialisasi seputar peningkatan minat baca pada Senin (20/10/2025) dan pembuatan pojok baca serta pojok karya pada Sabtu (01/11/2025).
Pojok Baca dan Pojok Karya menjadi fasilitas literasi yang sebelumnya tidak dimiliki sekolah, mengingat SMP Yayasan Pendidikan Nur Hasanah belum memiliki perpustakaan ataupun sudut baca yang memadai. Program ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk membaca, mengembangkan kemampuan berekspresi, serta menumbuhkan rasa percaya diri terhadap karya yang dihasilkan.
Program dilaksanakan di salah satu ruang kelas yang awalnya belum dimanfaatkan secara optimal. Ruangan tersebut kemudian diubah menjadi pojok baca yang dilengkapi koleksi buku, serta pojok karya sebagai media apresiasi hasil kreativitas siswa. Sebanyak 38 siswa dari tiga kelas terlibat dalam kegiatan ini, termasuk dalam sesi sosialisasi mengenai pentingnya literasi dan budaya membaca bagi pelajar SMP.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme siswa dan dukungan dari guru. Suasana sekolah menjadi lebih hidup setelah hadirnya fasilitas ini, karena siswa terlihat lebih sering membaca dan menambahkan karya mereka pada papan apresiasi yang disediakan. Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya meningkatkan literasi, tetapi juga membangun rasa percaya diri siswa dalam berkarya.
“Kami berharap Pojok Baca dan Karya berguna dalam belajar dan membuat saya dan teman-teman saya pintar menyimpulkan sesuatu,” ujar Hanin, salah satu siswi yang diwawancarai. Ia juga menuturkan bahwa sebelum adanya program ini, minat membaca siswa cukup tinggi meskipun sekolah tidak memiliki fasilitas perpustakaan. Banyak siswa memanfaatkan platform digital seperti Wattpad dan Webtoon untuk membaca cerita, sehingga hadirnya Pojok Baca diharapkan dapat memperluas pilihan bacaan mereka.
Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa lainnya, kecenderungan membaca melalui platform digital menunjukkan bahwa minat baca sudah tumbuh, tetapi masih perlu diarahkan pada bacaan cetak yang lebih beragam. Temuan ini menjadi dasar tim pelaksana untuk menambahkan koleksi fiksi dan komik sebagai upaya menyeimbangkan literasi digital dan konvensional.
Program Pojok Baca dan Karya tidak hanya meningkatkan budaya membaca, tetapi juga menjadi salah satu upaya pencegahan tiga dosa besar pendidikan: perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Melalui kegiatan literasi, apresiasi karya, dan lingkungan belajar yang positif, siswa didorong untuk membangun empati, keberanian berekspresi, serta saling menghargai perbedaan.
Program ini menjadi contoh implementasi pembelajaran berbasis proyek dalam MKWK USU yang berdampak langsung pada pengembangan karakter siswa dan penguatan lingkungan sekolah. Dengan adanya fasilitas literasi ini, sekolah memiliki sarana keberlanjutan budaya membaca dan ruang ekspresi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Link YouTube: https://youtu.be/AWXYAwbCur8?si=SpgUp5FGGq7QoEgF
Link Instagram : https://www.instagram.com/qualityedu.39?igsh=MjIxb3gzdTZhaWk1
Kelompok 1 Ekosistem Laut USU Lakukan Penanaman Mangrove dan Studi Keterlibatan Warga di Desa Sei Nagalawan
Sei Nagalawan — Kelompok mahasiswa Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 01 Ekosistem Kelautan Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan penanaman mangrove serta melakukan wawancara mengenai rehabilitasi mangrove dan penanggulangan polusi laut di Desa Sei Nagalawan, Perbaungan, pada Sabtu, 26 Oktober 2025.
Kelompok Ekosistem Kelautan terdiri dari 24 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai fakultas dan program studi di Universitas Sumatera Utara (USU). Muhammad Fadli selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat, baik dari dalam maupun luar Desa Sei Nagalawan, yang belum mengetahui pentingnya rehabilitasi mangrove serta urgensi penanggulangan polusi laut. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar Desa Sei Nagalawan.
“Kami berharap upaya penanaman mangrove ini dapat menjadi langkah awal bagi program rehabilitasi yang lebih berkelanjutan, serta meningkatkan pemahaman masyarakat dan mahasiswa mengenai pentingnya rehabilitasi mangrove. Kegiatan ini juga melatih kami untuk memahami persoalan pesisir secara langsung dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam menemukan solusinya,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar mengenai pentingnya rehabilitasi mangrove bagi kelestarian ekosistem laut. Kegiatan ini didampingi oleh Sarudin, M.A., selaku dosen pembimbing, dan Rizki Zamiah Harahap selaku mentor.
Selama kegiatan, mahasiswa dibagi menjadi enam kelompok untuk mewawancarai berbagai pihak, seperti aparat desa, ketua kelompok tani hutan, pengelola Muara Badai, remaja putra dan putri, serta beberapa tokoh masyarakat lainnya mengenai rehabilitasi mangrove. Mahasiswa juga mengumpulkan informasi tentang sejauh mana pemahaman masyarakat terhadap pentingnya rehabilitasi mangrove. Setelah kegiatan wawancara selesai,seluruh mahasiswa melakukan penanaman bibit mangrove di lokasi yang telah ditentukan.
Ketua Kelompok Tani Muara Bambai, Irwan Syahril, menyambut hangat kedatangan para mahasiswa dan menilai bahwa kegiatan ini sangat baik untuk dilaksanakan serta membawa banyak manfaat. “Rehabilitasi mangrove ini sangat penting dan harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Mangrove bukan hanya melindungi pantai kami dari abrasi, tetapi juga menjadi tempat berkembang biaknya ikan yang membantu perekonomian nelayan. Karena itu, semua pihak perlu terus terlibat, mulai dari pemerintah, komunitas lokal, hingga mahasiswa,” ujarnya.
Irwan juga menyampaikan bahwa kegiatan rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan merupakan langkah yang sangat baik dan memberikan banyak manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat. Ia menjelaskan bahwa rehabilitasi mangrove berperan penting dalam melindungi pantai dari abrasi serta menjadi habitat berkembang biaknya ikan yang menunjang perekonomian para nelayan. Oleh karena itu, Irwan berharap kegiatan ini dapat terus dilanjutkan secara berkelanjutan mengingat manfaatnya yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.
Link YouTube: https://youtu.be/-LYxifi42bs?si=lHlItgorbWF6ZJDB
Link Instagram : https://www.instagram.com/reel/DQoScZ6Dz_E/?igsh=bWttNDljNGY3dnhn
Kelompok MKWK 14 Kesetaraan Gender USU Menekankan Usaha Membangun Kesadaraan Kesetaraan Gender di Kalangan Pelajar
Sekelompok mahasiswa pelaksana proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 14 Kesetaraan Gender dari Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya membangun kesadaran akan kesetaraan gender di lingkungan sekolah yang berlokasi di Yayasan Pendidikan Mutia Rahma, Kec. Hamparan Perak pada hari Sabtu, 8 November 2025.
Kelompok 14 Kesetaraan Gender ini terdiri atas 20 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan program studi di Universitas Sumatera Utara (USU). Salah seorang wali murid dari Yayasan Pendidikan Mutia Rahma menjelaskan bahwa masih banyak masalah terkait kesetaraan gender di sekolah ini. Kurangnya keadilan antara guru dengan siswa dan siswi, timpangnya jumlah siswa dengan jumlah siswi, dan kurangnya partisipasi salah satu gender akibat dominasi oleh satu gender lainnya. Dengan masalah yang ada, kegiatan sosialisasi dan edukasi diadakan untuk sama-sama menyadarkan siswa-siswi yang ada tentang pentingnya kesetaraan gender di lingkungan sekolah, dengan harapan masalah yang ada dapat berkurang dan menemukan solusinya.
Secara eksplisit, seorang anggota kelompok mengungkapkan pesan, “Melalui kehadiran kami, kami ingin mengajak teman-teman semua untuk sama-sama sadar bahwa kita berbeda, namun perbedaan yang kita miliki ada baiknya mempersatukan kita semua dan tidak memecah belah keadaan. Kita berbeda, namun kita setara. Kita punya hak dan kewajiban yang sama, kesempatan yang sama, dan kemampuan yang sama untuk bisa saling menghargai dan menghormati.”
Program ini dilaksanakan agar siswa-siswi yang berpartisipasi dalam acara ini bisa belajar untuk menghargai perbedaan gender yang mereka miliki. Namun, perbedaan yang mereka miliki, bukanlah alasan bagi mereka untuk saling merendahkan satu dengan yang lain, namun untuk meningkatkan rasa hormat dan semangat persahabatan yang mereka miliki. Kegiataan ini dipandu dan didampingi oleh seorang mentor kelompok bernama, Elleora Patricia Sitinjak, mahasiswi Universitas Sumatera Utara angkatan 2024.
Selama kegiatan berlangsung, mereka dibagi menjadi 2 bagian. Sisi perempuan dan sisi laku-laki. Hal ini dilakukan karena acara diadakan di sebuah pondok pesantren yang mewajibkan perempuan dan laki-laki dipisahkan tempatnya. Dan ketika games diadakan, kedua kelompok ini kembali dipecah ke dalam 6 kelompok, dimana masing-masing terdiri atas 3 kelompok. Kehadiran kelompok 14 Kesetaraan Gender di Yayasan Pendidikan Mutia Rahma bukan hanya untuk belajar bersama, tetapi juga bermain bersama mereka. Yayasan Pendidikan Mutia Rahma menyambut anggota kelompok dengan perasaan bahagia dan merasa bahwa topik yang dibawakan sangat berharga dan penting bagi anak-anak mereka. Salah seorang guru yang mewakili yayasan pendidikan ini menyampaikan dalam kata sambutannya sebaris pesan dan harapan, “Semoga program yang dijalankan dapat membuka jalan pikiran siswa-siswi untuk terus memiliki kesadaran akan kesetaraan gender dan menghilangkan stereotype-stereotype negatif mengenai salah satu gender di lingkungan sekolah mereka. Dengan harapan, siswa-siswi dapat bertumbuh menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya sesuai dengan kodrat, hak, dan kewajiban mereka masing-masing sesuai gender mereka.”
***
Tulisan ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK 14 Kesetaraan Gender USU dalam kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya kesadaran akan kesetaraan gender di lingkungan sekolah, yang didampingi oleh mentor : Elleora Patricia Sitinjak dan diketuai oleh Teresia Indriani Sembiring.
Dokumentasi :
Kelompok laki-laki
Kelompok perempuan
Link Youtube : https://youtu.be/gu5UMqdrTnE?si=06DcmxqjOsJfjLp2
Link Instagram : https://www.instagram.com/4teen_ge?igsh=YWthaDlrNG5qemVz
Sosialisasi Anti Perundungan Kelompok 34 MKWK USU di Kelompok Belajar Seroja : Wujud Kepedulian Mahasiswa dalam Menciptakan Lingkungan Aman dan Inklus
Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara (USU) yang mengangkat tema Perundungan kembali dilaksanakan sebagai bagian dari implementasi pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan oleh Kelompok 34 MKWK Perundungan pada tanggal 25 oktober 2025 di Kelompok Belajar Seroja, sebuah komunitas belajar anak-anak di lingkungan masyarakat. Kegiatan ini merupakan upaya nyata mahasiswa USU untuk menumbuhkan kesadaran, empati, serta mendorong terciptanya ruang belajar yang aman dan bebas dari tindakan bullying.
Sosialisasi ini diikuti oleh 36 anak anggota Kelompok Seroja dengan penuh antusias. Kegiatan berlangsung sejak pukul 16.00 hingga selesai, diawali dengan pendekatan ringan melalui ice breaking serta perkenalan guna membangun kenyamanan dan kepercayaan antara mahasiswa dan peserta. Tahap ini menjadi fondasi penting agar materi mengenai perundungan dapat diterima dengan lebih mudah dan menyenangkan.
Pada sesi inti, pemateri dari Kelompok 34 memberikan penjelasan mengenai berbagai bentuk perundungan, mulai dari verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying. Penyampaian dilakukan menggunakan contoh visual, cerita sederhana, dan tanya jawab interaktif agar lebih dipahami oleh anak-anak. Mahasiswa menekankan bahwa perundungan bukan hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, kepercayaan diri, dan perkembangan sosial korban.
Para peserta juga diberi penjelasan mengenai dampak perundungan bagi korban dan pelaku, termasuk risiko depresi, kecemasan, menurunnya prestasi, hingga perubahan perilaku. Penyampaian dibuat sederhana dan relevan sesuai bahasa anak-anak, sehingga mereka dapat menghubungkan materi dengan situasi yang mungkin terjadi di sekitar mereka. Tidak hanya menerima teori, anak-anak juga diajak mempelajari cara bertindak ketika melihat perundungan. Melalui sesi bystander intervention, peserta belajar berani mengatakan "stop", mencari bantuan orang dewasa, serta mendukung teman yang menjadi korban. Sesi ini menjadi salah satu bagian paling menarik karena anak-anak diajak mempraktikkan langsung melalui simulasi peran.
Untuk memperdalam empati, Kelompok 34 membuka sesi berbagi pengalaman. Beberapa peserta menceritakan pengalaman pribadi mereka terkait perundungan. Cerita-cerita ini menjadi bukti bahwa tindakan bullying masih sering terjadi, bahkan di lingkungan kecil masyarakat.
"Setiap kali saya mau ikut main, mereka suka ngejek cara saya ngomong. Kadang mereka sengaja ninggalin saya sendiri," ujar Angel, 10 tahun.
"Waktu itu saya lihat teman saya dibully. Saya takut, tapi saya maju bilang supaya mereka berhenti. Kalau saya diam, dia makin kesakitan," tutur Matthan, 11 tahun.
Dari 36 peserta yang mengikuti post-test setelah sosialisasi, 70% berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman mengenai jenis perundungan, dampaknya, serta cara menghindarinya.
Tidak hanya peningkatan pengetahuan, perubahan sikap positif juga mulai terlihat. Anak-anak mampu mengenali perilaku yang tergolong perundungan dan menunjukkan komitmen untuk tidak melakukannya, baik di lingkungan bermain maupun ruang digital.
Pelaksanaan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Kelompok 34 menyampaikan apresiasi kepada: Universitas Sumatera Utara (USU) yang memberikan ruang dan kepercayaan kepada mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat. Laboratorium Ilmu Dasar dan Umum (LIDA) yang memberikan persetujuan dan izin turun lapangan sehingga kegiatan berjalan tertib dan resmi.
Ibu Linda Zenita Simanjuntak, S.TP., M.Div., M.Th., selaku dosen pengampu, yang terus membimbing dari persiapan hingga evaluasi kegiatan. Bimbingan dan dukungan dari pihak kampus memberi semangat bagi mahasiswa untuk menjalankan proyek ini dengan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi.
Kegiatan sosialisasi anti-perundungan ini bukan sekadar pemenuhan tugas mata kuliah, tetapi menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa USU dalam membangun generasi muda yang lebih peduli, berempati, dan berani berkata tidak pada kekerasan.
Melalui edukasi, diskusi, dan interaksi langsung yang hangat, Kelompok 34 berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal untuk menciptakan budaya positif di Kelompok Belajar Seroja dan masyarakat sekitar.
Perundungan bukan hanya perlu dicegah, tetapi harus dihentikan bersama.
Link Youtube : https://youtu.be/sY7-IpRfT0c?si=yXa4b79EheQaKNuN
Link Instagram : https://www.instagram.com/34_mkwk?igsh=OW9yZng3M2Q3Nmdi
Selasa, 02 Desember 2025
Langganan:
Komentar (Atom)