Sabtu, 06 Desember 2025

Proyek MKWK USU Membina Karakter Siswa untuk Cegah Perundungan di SMP Islam Al-Fadhli


Kelompok mahasiswa Proyek MKWK Perundungan 109 Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar sosialisasi dan edukasi karakter bagi siswa SMP Islam Al-Fadhli untuk menumbuhkan empati serta mencegah perundungan di lingkungan sekolah.

Kelompok mahasiswa Proyek MKWK Perundungan 109 Universitas Sumatera Utara (USU) pada 8 November 2025 melaksanakan kegiatan penyuluhan serta pembinaan karakter di SMP Islam Al-Fadhli, yang bertujuan untuk menumbuhkan empati, meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak perundungan, serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk tindakan perundungan


Perundungan (bullying) merupakan salah satu permasalahan serius yang banyak terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya di tingkat sekolah menengah pertama. Dampak dari perundungan tidak hanya mempengaruhi kondisi psikologis peserta didik, tetapi juga berpengaruh pada prestasi akademik, rasa percaya diri, dan kemampuan bersosialisasi siswa. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi berbagai pihak, termasuk pendidik, orang tua, hingga mahasiswa sebagai calon intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial.


SMP Islam Al-Fadhli dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena keberagaman latar belakang siswanya, yang menghadirkan dinamika sosial beragam dan berpotensi memunculkan perilaku perundungan. Kegiatan dimulai dengan pemaparan materi mengenai jenis-jenis bullying, penyebab perundungan, serta cara pencegahannya. Mahasiswa kemudian mengajak siswa mengikuti diskusi kelompok terpimpin, di mana mereka membahas contoh perilaku yang sering muncul di lingkungan sekolah, mengidentifikasi perilaku positif dan negatif, serta mencari solusi bersama untuk mencegah perundungan. Selain itu, permainan kolaboratif turut disertakan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, kerja sama, dan komunikasi positif. Siswa juga melakukan refleksi singkat mengenai hal-hal yang mereka pelajari.


Ketua Kelompok MKWK 109, Reivan Putra Arrahman, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman penting tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi mahasiswa. “Kami ingin siswa memahami bahwa perundungan bukan hanya soal kekerasan fisik, tetapi juga kata-kata dan tindakan kecil yang bisa menyakiti orang lain. Melalui sosialisasi ini, kami berharap mereka termotivasi untuk lebih peduli, lebih menghargai teman, dan berani bersuara ketika melihat tindakan yang tidak benar,” ungkapnya.


Kolaborasi antara mahasiswa dan pihak sekolah berlangsung dengan baik. Guru-guru turut mendampingi selama kegiatan, mulai dari penyediaan fasilitas hingga interaksi langsung dalam sesi tanya jawab. Dukungan tersebut membantu terciptanya suasana kegiatan yang kondusif dan interaktif. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa upaya pencegahan perundungan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, terutama sekolah sebagai lingkungan pembentukan karakter.


Kepala Sekolah SMP Islam Al Fadhli Medan, Windi Lianita, S.Pd., menyambut baik proyek tersebut dan menilai bahwa inisiatif ini sangat bermanfaat baik bagi para siswa. ”Selama ini, banyak dari mereka yang belum memahami betapa seriusnya dampak perundungan dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi lingkungan belajar. Dengan adanya penyampaian materi mengenai perundungan, kami berharap para siswa dapat lebih peka, mampu saling menghargai, serta menciptakan suasana sekolah yang aman dan nyaman bagi semua,” ujarnya.


Melalui penyuluhan ini, mahasiswa berharap hasil kegiatan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi siswa, mulai dari meningkatnya kesadaran terhadap bahaya bullying hingga terbentuknya budaya sekolah yang lebih ramah, inklusif, dan saling menghargai. Program ini bukan hanya bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga wadah untuk menanamkan nilai kemanusiaan, empati, dan toleransi yang menjadi bagian penting dari karakter warga negara yang baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar