
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari *Kelompok Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Perundungan 94* melaksanakan edukasi bertema *“Dampak Psikologis Akibat Tindakan Bullying pada Remaja di UPT SMP Negeri 1 Medan.”* Senin (20/10/2025). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya bullying serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman dan suportif. Melihat perundungan yang sering dianggap sepele namun berdampak besar pada psikologis remaja, mahasiswa hadir memberikan edukasi yang informatif, interaktif, dan dekat dengan pengalaman siswa. Suasana kelas dibuat hidup sejak awal, ketika Adhwa Nisrina Bahar, ketua proyek sekaligus perwakilan mahasiswa USU, memberikan kata sambutan dengan cara yang hangat dan dekat dengan siswa. Ia menyapa para peserta dengan penuh energi untuk memecah rasa kantuk setelah upacara pagi. Menurut Adhwa, pembahasan tentang bullying sangat relevan bagi remaja saat ini, terutama karena bentuk-bentuk perundungan kini semakin beragam, baik secara langsung maupun melalui media sosial. “Coba deh, siapa disini yang aktif di Media Sosial? Seperti main TikTok, Instagram, atau yang lain? Pasti pernah lihat orang dikatain di kolom komentar, kan? Atau mungkin di dunia nyata, pernah lihat ada temen yang diejek karena penampilannya, karena cara bicaranya mungkin? Nah itu hal kecil yang kelihatannya bercanda, tapi bisa jadi awal bullying,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman diejek atau dikucilkan dapat menimbulkan perasaan takut, cemas, bahkan enggan datang ke sekolah. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyampaikan materi melalui *ceramah interaktif* yang mengupas berbagai bentuk perundungan—baik fisik, verbal, maupun sosial—serta dampaknya terhadap kesehatan mental. Siswa diberikan pemahaman bahwa tindakan perundungan dapat menimbulkan kecemasan, stres berkepanjangan, rasa tidak aman, menurunnya kepercayaan diri, hingga trauma jangka panjang bila tidak segera ditangani. Untuk menjaga suasana kegiatan tetap menyenangkan dan membuat siswa lebih nyaman, mahasiswa mengadakan *ice breaking* serta *games edukatif*. Kegiatan ini dirancang untuk membangun keakraban, meningkatkan empati, dan menanamkan nilai kebersamaan. Melalui permainan, siswa diajak memahami bahwa perilaku saling merendahkan atau menjatuhkan dapat berdampak buruk, sementara sikap saling mendukung mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif. Salah satu sesi yang paling bermakna adalah kegiatan *ekspresi diri melalui media kertas*. Dalam sesi ini, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan atau menggambar pengalaman, perasaan, atau pesan terkait bullying. Banyak dari mereka yang mengungkapkan pengalaman pribadi yang sebelumnya sulit mereka ceritakan secara langsung. Metode ekspresi diri ini tidak hanya membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam, tetapi juga menjadi sarana untuk meluapkan emosi yang terpendam. Mahasiswa pembimbing turut mendampingi siswa, memberikan dukungan emosional, serta mengajak mereka memahami bahwa berbicara tentang perundungan adalah langkah penting dalam proses penyembuhan. Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari para guru dan siswa yang merasa terbantu dengan pendekatan yang hangat, dekat dengan remaja, namun tetap edukatif. Mahasiswa USU Kelompok MKWK Perundungan 94 menegaskan bahwa masalah bullying bukanlah hal yang dapat dianggap biasa. Selain dampak psikologis yang dapat terbawa hingga dewasa, perundungan juga dapat memengaruhi prestasi belajar, hubungan sosial, dan rasa aman siswa di sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat mendorong terciptanya budaya sekolah yang lebih peduli, di mana siswa berani melapor, berani berbicara, serta saling mendukung untuk menghentikan perundungan dalam bentuk apa pun. Edukasi yang dilakukan bukan hanya untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang dialog, membangun empati, dan memperkuat solidaritas antarsiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar