Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Berkualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Berkualitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2025

Mahasiswa USU Adakan Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar

 

Mahasiswa USU Dukung Pendidikan Berkualitas di SMPN 9 Medan Melalui Sosialisai Literasi Digital

Mahasiswa USU Adakan Edukasi Mencegah Kenakalan Anak Usia Dini Melalui Pendidikan Karakter Siswa

Kelompok MKWK Pendidikan Berkualitas 59 terdiri atas 20 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi di USU. Ihsanul Fahmi Hasibuan, selaku Ketua Kelompok, menjelaskan bahwa masih banyak pihak sekolah yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya pembentukan karakter sejak dini pada siswa sekolah dasar. Karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat membantu memperkuat nilai-nilai positif pada siswa SD Negeri Percobaan Medan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan kesadaran pihak sekolah tentang pentingnya pendidikan karakter untuk mencegah kenakalan anak usia dini. Kolaborasi antara mahasiswa dan siswa diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai luhur sejak awal. Namun, efektivitas pendidikan karakter tetap bergantung pada keteladanan guru sebagai panutan utama di sekolah,” ujarnya.

Kegiatan edukasi ini menekankan integrasi pembelajaran karakter yang aktif dan kreatif, dengan fokus pada penguatan nilai dasar seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan empati. Proses pelaksanaan juga didampingi oleh mentor, Aufa Khairunnisa.

Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti pemaparan materi yang disampaikan menggunakan metode yang disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak serta bahasa yang mudah dipahami. Setelah penyampaian materi, siswa diajak berpartisipasi dengan menyampaikan kembali pemahaman mereka terkait nilai-nilai karakter yang dibahas. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan permainan edukatif yang membantu siswa tetap aktif dan memperkuat pemahaman mereka terhadap materi. Selain itu, panitia juga memberikan apresiasi kepada siswa yang aktif sebagai bentuk motivasi agar mereka lebih berani, percaya diri, dan antusias dalam mengikuti kegiatan.

Kepala Sekolah SD Negeri Percobaan Medan, Ermansyah S.Pd., M.Pd., menyambut baik program tersebut dan menilai kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pembentukan karakter siswa. “Program ini sangat berguna bagi anak-anak seusia mereka. Karakter memang harus dibangun sejak dini untuk mencegah berbagai bentuk kenakalan yang marak terjadi. Program seperti ini tentu memberi dampak positif bagi perkembangan siswa. Kami berharap semakin banyak kegiatan serupa yang hadir di sekolah kami,” ungkapnya.

Melalui proyek ini, Kelompok MKWK Pendidikan Berkualitas 59 berharap dapat memberikan fondasi karakter yang kuat sebagai benteng utama dalam mencegah kenakalan remaja di masa mendatang. Kelompok ini juga berkomitmen untuk terus memonitor dan mengevaluasi dampak jangka panjang dari modul pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah tersebut.


Penerapan Strategi 3M oleh Mahasiswa USU di Panti Asuhan Anak Dirman Indonesia


Medan - Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Kelompok 63 Pendidikan Berkualitas melaksanakan proyek pembelajaran MKWK berupa program peningkatan literasi berbasis metode Strategi 3M (Mendengarkan, Memahami, Menyampaikan) di Panti Asuhan Anak Dirman Indonesia, Kota Medan, pada Minggu (2/11/2025). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan minat membaca anak panti melalui aktivitas belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan.

Pendidikan Berkualitas Kelompok 63 terdiri dari 20 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, dengan Reva Naomi Erika Akrisla Napitupulu selaku ketua kelompok. Kegiatan ini dibimbing oleh Dr. Simson Ginting, S.Sos., MPA, serta Vianova Kania selaku mentor Pendidikan Berkualitas Kelompok 63. Melalui proyek MKWK berbasis Design Thinking, mahasiswa Kelompok 63 Pendidikan Berkualitas merancang solusi bertahap untuk meningkatkan minat baca anak melalui pendekatan 3M.

“Dalam kegiatan MKWK ini, adik-adik mentee saya menerapkan strategi 3M yaitu mendengarkan, memahami, dan menyampaikan. Mereka menyesuaikan cara penyampaian materi dengan kebutuhan anak-anak panti, sehingga kegiatan literasi menjadi lebih hangat, mudah diikuti, dan membuat anak-anak lebih percaya diri untuk mencoba,” ujar Vianova Kania, mentor Pendidikan Berkualitas kelompok 63.

Rendahnya minat literasi menjadi alasan utama kelompok ini merancang kegiatan strategi 3M di panti Asuhan Anak Dirman Indonesia, mengingat panti tersebut masih mengalami keterbatasan fasilitas pendukung literasi. Berdasarkan survei awal kelompok, minat membaca anak-anak Panti Asuhan Dirman Indonesia hanya berada di sekitar 40%, dipengaruhi oleh kurangnya bahan bacaan, minimnya dukungan, serta belum adanya kegiatan literasi terjadwal.

Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 2 November 2025. Mahasiswa membuka acara dengan sosialisasi literasi dan permainan ice breaking untuk membangun antusias anak-anak. Setelah itu, anak-anak menonton video cerita rakyat dan mengikuti sesi tanya jawab. Kegiatan berlanjut dengan membaca buku sesuai usia, lalu menceritakan kembali isi bacaan sebagai penerapan Strategi 3M. Di akhir kegiatan, mahasiswa memberikan hadiah untuk peserta aktif dan menyerahkan donasi berupa buku bacaan, alat tulis, serta rak buku kepada pihak panti.

Berdasarkan pengamatan dan keterangan kepala panti serta pengurus panti, sekitar setengah lebih dari anak-anak mulai menunjukkan peningkatan minat membaca, terutama anak-anak tingkat SD yang lebih rutin membaca pada siang dan malam hari. Selain itu, area penyimpanan buku menjadi lebih rapi setelah dilakukan penataan bersama mahasiswa. Sementara itu, perubahan dalam kebiasaan bertutur kata belum terlihat signifikan, namun kegiatan ini dinilai memberikan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan bagi anak-anak.

Istri Kepala Panti Asuhan Dirman Indonesia, yang turut mendampingi selama kegiatan, menyampaikan apresiasi atas program ini. “Setelah kakak-kakak datang, anak-anak bilang mereka senang. Sekitar setengah lebih dari mereka mulai rutin membaca pada siang setelah pulang sekolah dan malam hari, terutama anak-anak yang masih SD. Kegiatannya bagus dan banyak yang bisa mereka pelajari,” ungkapnya.

Kegiatan Strategi 3M diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi di Panti Asuhan Anak Dirman Indonesia. Dengan kolaborasi bersama mahasiswa, pengasuh, dan masyarakat, program ini diharapkan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang terhadap penguatan pendidikan anak-anak panti.


Proyek MKWK Pendidikan Berkualitas Kelompok 2 Melakukan Sosialisasi Dengan Tajuk “Karakter Positif,Generasi Kreatif”


Medan—Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Kelompok 2 MKWK Pendidikan Berkualitas yang diketuai oleh M.Adhitya Fathir Harahap besesrta anggota divisi lainnya, berhasil melaksanakan proyek sosialisasi bertema“Karakter Positif, Generasi Kreatif” di MTs Al-Jihad Medan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pemenuhan tugas mata kuliah wajib kurikulum.Mengusung tajuk“Karakter Positif,Generasi Kreatif, ini bertujuan menanamkan nilai karakter positif serta mendorong kreativitas generasi muda melalui pembelajaran interaktif, diskusi, dan games edukatif.Demikian juga kelompok 2 MKWK Pendidikan Berkualitas USU melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan ssaran target merupakan siswa siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama atau generasi muda.

Pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 menuntut siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki karakter positif serta kreativitas tinggi. Berangkat dari tantangan tersebut, kelompok 2 MKWK Pendidikan Berkualitas USU memilih focus pada pembentukan karakter seperti disiplin, jujur, kerja sama, dan tanggung jawab serta mengintegrasikannya dengan kreativitas siswa.

Kegiatan dilaksanakan di MTs Al-Jihad Medan pada Sabtu (1/11/25) dan diikuti oleh 25 orang siswa-siswi kelas VII-1,Rangkaian kegiatan meliputi:

∙ Penyampaian materi mengenai karakter positif dan pentingnya kreativitas dalam kehidupan siswa.

∙ Diskusi dan tanya jawab mengenai contoh karakter sehari-hari. ∙ Games edukatif dan ice breaking yang meningkatkan antusiasme para siswa dan siswi.

∙ Pengisian kuesioner untuk mengukur pemahaman siswa dan siswi ∙ Pembagian hadiah dan snack sebagai bentuk apresiasi kepada siswa dan siswi.

Kelompok juga mempersiapkan spanduk, video dokumentasi, serta kuesioner terstruktur untuk mendukung proses edukasi.

(Dokumentasi saat sosialisasi)

Lewat sosialisasi yang menggunakan metode kuantitatif kuesioner. maka,diperoleh hasil kuesioner yang menunjukkan respon sangat positif:

∙ 85% siswa menyatakan cukup paham hubungan antara karakter dan kreativitas.

∙ 100% siswa merasa sangat termotivasi untuk menjadi pribadi berkarakter dan kreatif.

∙ 95% siswa menyukai materi dan kegiatan, baik penyampaian maupun ice breaking.

∙ Nilai karakter yang paling dianggap penting oleh siswa adalah jujur (85%).

∙ Sebanyak 50% siswa berkomitmen memperbaiki kedisiplinan dan 50% lainnya ingin menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Data ini menunjukkan bahwa sosialisasi tidak hanya dipahami, tetapi juga menggerakkan perubahan perilaku yang diharapkan.

Program ini berlangsung dengan dukungan penuh dari pihak sekolah, dosen fasilitator Drs. Parlaungan Ritonga, M.Hum., serta mentor Sarah Sabrina Silalahi. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung.

Drs. Parlaungan Ritonga, M.Hum.,selaku dosen fasilitator menyatakan “Kegiatan MKWK seperti ini penting untuk membangun karakter siswa sejak dini. Pembelajaran tidak hanya soal nilai, tetapi bagaimana siswa menjadi manusia yang jujur, kreatif, dan bertanggung jawab.”

Ketua Kelompok, M. Adhitya Fathir Harahap menjelaskan bahwa kegiatan ini memang ditujukkan ditujukkan untuk anak muda khususnya dikalangan Tingkat Sekolah Menengah Pertama. “Kami senang siswa MTs Al-Jihad sangat aktif. Tujuan kami bukan hanya memberi materi, tetapi membangun kebiasaan positif yang bisa mereka terapkan setiap hari.”

Sejalan dengan tujuan tersebut, Kepala Sekolah MTs Al-Jihad, Bapak Rinto Hermawan S.Ag menjelaskan bahwa mereka secara terbuka menyambut ajakan kerjasama kegiatan sosialisasi tentang heritage ini karena menilai kegiatan ini akan sangat bermanfaat kedepannya. “Kami menerima ajakan sosialisasi karena kami berpikir kegiatan ini akan bermanfaat untuk anak-anak sehingga menambah wawasan anak-anak serta bagaimana membangun karakter dimasa depan sehingga kami berminat bekerja sama dengan dalam hal ini dengan Mahasiswa USU”. Beliau juga menjelaskan kegiatan ini diterima untuk anak-anak MTs Al-Jihad “Kami juga menilai pentingnya mendukung nilai-nilai karakter yang disampaikan sehingga kegiatan ini akan bermanfaat bagi anak-anak untuk bersikap kedepannya”.

Kegiatan sosialisasi “Karakter Positif, Generasi Kreatif” ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi siswa MTs Al-Jihad Medan dalam membangun karakter yang kuat dan kreativitas yang relevan dengan tuntutan zaman. Program MKWK ini juga menjadi bukti komitmen USU dalam berkontribusi nyata terhadap pendidikan masyarakat dan penguatan nilai-nilai pembelajaran holistik.


Link YouTube : https://www.youtube.com/watch?v=RaQbOT-WEbI

Kamis, 04 Desember 2025

Mahasiswa USU Gelar Sosialisasi Pemanfaatan Teknologi AI di SMAS BUDI MURNI 2 MEDAN

Mahasiswa USU Bangun Karakter Gen Z Lewat Pembelajaran Berbasis Proyek di Era Digital

MAHASISWA USU SOSIALISASI PENDIDIKAN BERKUALITAS BERBASIS MORALITAS DI ERA DIGITAL

PEMBELAJARAN MKWK BERBASIS PROYEK USU; TRANSFORMASI PENDIDIKAN BERKUALITAS DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL

Di era globalisasi saat ini, dunia dihadapkan dengan kemajuan teknologi yang sangat membantu aktivitas manusia. Kini, hanya dengan bantuan koneksi internet dan handphone dalam genggaman, manusia dapat menerima berbagai informasi. Hal tersebut tentu saja mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan, terutama di Indonesia. Saat ini, siswa dapat dengan mudah mencari informasi – bahkan jawaban dari tugas yang diberikan dengan bantukan Artificial Intelegence. Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah penggunaan AI tersebut dapat meningkatkan kualitas belajar siswa atau justru membuat siswa semakin malas untuk berpikir kritis karena mudahnya bantuan yang didapatkannya?

Pertanyaan tersebut menjadi alasan dilakukannya kegiatan sosialisasi Kelompok 50 MKWK di Global Prima National Plus School. Dari survei awal yang dilakukan, sudah terlihat banyak siswa yang menggunakan bantuan AI tanpa pemahaman mengenai batasan etis dalam menggunakannya.

Artikel ini ditulis guna memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan berkualitas meskipun di dalam era global, menjelaskan berbagai tantangan yang ditemukan dalam penggunaan AI serta memaparkan hasil sosialisasi yang telah dilakukan di Global Prima National Plus School.



MASALAH YANG DITEMPUH DALAM PENDIDIKAN MASA KINI

Dari survei yang kami lakukan, menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Beberapa diantaranya, siswa terlalu bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami materinya, adanya ketimpangan akses teknologi antara siswa yang dapat memperlebar kesenjangan pendidikan, minimnya literasi digital sehingga siswa sulit membedakan penggunaan AI yang benar dan salah, perkembangan global yang begitu cepat tidak selalu diimbangi kesiapan sekolah dalam menerapkan pembelajaran berbasis teknologi.

KONSEP PENDIDIKAN BERKUALITAS

Dalam teori pendidikan modern, pendidikan berkualitas sebenarnya bukan hanya tentang prestasi akademik, menurut konsep yang digunakan dalam laporan, pendidikan harus mendorong perkembangan pengetahuan, keterampilan, karakter, kreativitas, dan kemampuan adaptasi. UNESCO mengusung empat pilar yang berupa, learning to know. Learning to do, learning to be, learning to live together.

Pendidikan harus mencetak pembelajar aktif yang mampu berpikir kritis, bukan hanya menerima jawaban dari sistem. Jika dikaitkan dengan perkembangan AL, muncul pertanyaan reflektif “Apakah AI akan menjadi alat pemberdaya, atau justru alat yang membuat siswa berhenti berpikir?”.

HASIL SOSIALISASI : RESPON DAN DAMPAK

Kegiatan yang dilaksakan pada 11 November 2025 berjalan dengan antusiasme tinggi. Siswa aktif bertanya mengenai cara memakai AI secara aman, etis, dan produktif. Mereka tertarik memahami bagaimana membedakan “bantuan belajar” dan “kecurangan akademik”. Meskipun proyektor kelas tidak dapat digunakan, sosialisasi tetap berlangsung menggunakan laptop dan komunikasi langsung.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting, “apakah setiap sekolah sudah memiliki fasilitas teknologi yang memadai untuk mendukung pembelajaran modern?” meskipun begitu, para guru pendamping menilai bahwa materi sosialisasi sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa siswa sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka hanya membutuhkan arahan yang tepat untuk menggunakan teknologi secara benar.

SOLUSI YANG DITAWARKAN

Adapun solusi yang dapat digunakan untuk para siswa, berupa menggunakan AI sebagai alat bantu memahami materi, bukan sebagai mesin pemberi jawaban instan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan membaca, menganalisis dan mengerjakan tugas secara mandiri, juga meningkatkan literasi digital agar mampu membedakan sumber informasi yang valid dan tidak valid.

Sedangkan solusi untuk sekolah sebagai ladang mendapatkan pendidikan adalah menghadirkan guru yang kompeten dalam pembelajaran berbasis teknologi, menyusun kurikulum adaptif yang mengintegrasikan pemanfaatan AI secara tepat, memberikan pelatihan literasi teknologi bagi para siswa dan guru, seta menyediakan fasilitas memadai seperti jaringan internet stabil dan perangkat pendukung. Dengan solusi yang diberikan menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan pendidikan berkualitas di era digital.

KESIMPULAN

Sosialisasi “Transformasi Pendidikan Berkualitas di Tengah Tantangan Global” menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat yang luar biasa dalam meningkatkan mutu pendidikan, asalkan digunakan dengan tanggung jawab. Kegiatan ini membuka wawasan siswa mengenai pentingnya etika digital, integrasi akademik, dan kemampuan berpikir kritis.

Namun, pertanyaan besar tetap tersisa “apakah sekolah-sekolah di Indonesia siap bertransformasi menghadapi tantangan global? Dan apakah siswa mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menggunakannya?”. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan masa depan kualitas pendidikan Indonesia.




Link Youtube : https://youtu.be/OsN64kIFRl0?si=p0COsBDbtoQvHW-w

Rabu, 03 Desember 2025

Mahasiswa MKWK USU Gelar Sosialisasi Literasi di Panti Asuhan Samoni Kasih




Medan, pada Minggu, 19 Oktober 2025 — Kelompok 37 Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Pendidikan Berkualitas Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan sosialisasi literasi di Panti Asuhan Samoni Kasih, yang berlokasi di Jl. Harmonika No.65, Titi Rantai, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara. Program ini bertujuan meningkatkan akses literasi bagi anak-anak panti sebagai bentuk dukungan terhadap SDG 4: Quality Education.

Ketua Kelompok 37, Muhammad Raffi Ghifari Razly, menjelaskan bahwa literasi dipilih sebagai fokus kegiatan karena masih banyak anak-anak panti yang memiliki keterbatasan akses informasi. “Kami melihat bahwa anak-anak di panti membutuhkan pendampingan untuk memahami manfaat literasi, tidak sekadar membaca. Itulah sebabnya kami mengangkat tema ini sebagai bentuk kontribusi terhadap tujuan MKWK dan SDGs di bidang Pendidikan Berkualitas.” ujarnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, mahasiswa menyampaikan dua materi utama: pengertian literasi dan urgensi literasi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk meningkatkan pemahaman, empati, dan kemampuan kognitif, mereka juga menerapkan metode interaktif, seperti membaca cerita lalu menceritakannya kembali, serta permainan edukatif berupa puzzle literasi yang dirancang untuk melatih kemampuan mengolah informasi. Pendekatan ini menjadi inovasi kelompok agar proses belajar terasa menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.



Pengurus Panti Asuhan Samoni Kasih, Ibu Yuli, menyambut baik kegiatan ini. Ia mengungkapkan bahwa meskipun kegiatan membaca sudah rutin dilakukan, anak-anak masih belum memahami esensi literasi. “Selama ini mereka hanya membaca sebagai rutinitas. Setelah kegiatan ini, mereka mulai mengerti bahwa literasi itu penting untuk membuka wawasan,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa banyaknya jenis buku dan media bacaan sering membuat anak-anak kebingungan dalam memilih bahan bacaan yang sesuai. “Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa, mereka jadi lebih terarah dan semakin rajin membaca.” tambahnya.

Kegiatan ini didampingi oleh dosen pembimbing Suradi, S.Pd., S.Ag., dan mentor Susan Jong. Kelompok 37 berharap program literasi tersebut dapat terus berlanjut dan mendorong anak-anak panti untuk lebih percaya diri dalam proses belajar dan kegiatan membaca.



Link YouTube : https://youtu.be/GI7YsYv5gt0?si=6HfXZoUZaquQRDYq

Pojok Baca dan Karya: Benteng Karakter Siswa Melawan Tiga Dosa Besar Pendidikan

Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 39 Pendidikan Berkualitas Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan program Pojok Baca dan Karya sebagai upaya meningkatkan minat baca dan kreativitas siswa di SMP Yayasan Pendidikan Nur Hasanah, Medan. Kegiatan ini dilakukan melalui sosialisasi seputar peningkatan minat baca pada Senin (20/10/2025) dan pembuatan pojok baca serta pojok karya pada Sabtu (01/11/2025).

Pojok Baca dan Pojok Karya menjadi fasilitas literasi yang sebelumnya tidak dimiliki sekolah, mengingat SMP Yayasan Pendidikan Nur Hasanah belum memiliki perpustakaan ataupun sudut baca yang memadai. Program ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk membaca, mengembangkan kemampuan berekspresi, serta menumbuhkan rasa percaya diri terhadap karya yang dihasilkan.

Program dilaksanakan di salah satu ruang kelas yang awalnya belum dimanfaatkan secara optimal. Ruangan tersebut kemudian diubah menjadi pojok baca yang dilengkapi koleksi buku, serta pojok karya sebagai media apresiasi hasil kreativitas siswa. Sebanyak 38 siswa dari tiga kelas terlibat dalam kegiatan ini, termasuk dalam sesi sosialisasi mengenai pentingnya literasi dan budaya membaca bagi pelajar SMP.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme siswa dan dukungan dari guru. Suasana sekolah menjadi lebih hidup setelah hadirnya fasilitas ini, karena siswa terlihat lebih sering membaca dan menambahkan karya mereka pada papan apresiasi yang disediakan. Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya meningkatkan literasi, tetapi juga membangun rasa percaya diri siswa dalam berkarya.

“Kami berharap Pojok Baca dan Karya berguna dalam belajar dan membuat saya dan teman-teman saya pintar menyimpulkan sesuatu,” ujar Hanin, salah satu siswi yang diwawancarai. Ia juga menuturkan bahwa sebelum adanya program ini, minat membaca siswa cukup tinggi meskipun sekolah tidak memiliki fasilitas perpustakaan. Banyak siswa memanfaatkan platform digital seperti Wattpad dan Webtoon untuk membaca cerita, sehingga hadirnya Pojok Baca diharapkan dapat memperluas pilihan bacaan mereka.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa lainnya, kecenderungan membaca melalui platform digital menunjukkan bahwa minat baca sudah tumbuh, tetapi masih perlu diarahkan pada bacaan cetak yang lebih beragam. Temuan ini menjadi dasar tim pelaksana untuk menambahkan koleksi fiksi dan komik sebagai upaya menyeimbangkan literasi digital dan konvensional.

Program Pojok Baca dan Karya tidak hanya meningkatkan budaya membaca, tetapi juga menjadi salah satu upaya pencegahan tiga dosa besar pendidikan: perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Melalui kegiatan literasi, apresiasi karya, dan lingkungan belajar yang positif, siswa didorong untuk membangun empati, keberanian berekspresi, serta saling menghargai perbedaan.

Program ini menjadi contoh implementasi pembelajaran berbasis proyek dalam MKWK USU yang berdampak langsung pada pengembangan karakter siswa dan penguatan lingkungan sekolah. Dengan adanya fasilitas literasi ini, sekolah memiliki sarana keberlanjutan budaya membaca dan ruang ekspresi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.


Senin, 01 Desember 2025

Mahasiswa USU Menggelar Sosialisasi Revolusi Literasi Digital di SMP Namira Islamic School Medan



Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 64 Pendidikan Berkualitas Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan sosialisasi revolusi literasi digital tentang pemanfaatan AI (Artificial Intelligence) kepada audiens peserta didik kelas 8 di SMP Namira Islamic School Medan, Senin (20/10/2025).

Kegiatan dibimbing oleh dosen Dr. Suria Ningsih, S.H., M.Hum dan Rihadatul Aisy Wardah selaku mentor. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pelajar akan pentingnya menggunakan AI dengan bijak serta mewujudkan pelajar yang kritis dalam memilah informasi di media digital, di tengah maraknya berita bohong dan penyalahgunaan AI yang mengarah ke hal yang tidak baik dan bersifat brainroot.

“Melalui MKWK, kami belajar memetakan kebutuhan audiens dan mendesain kegiatan yang relevan, kreatif, dan memiliki dampak nyata. Literasi digital merupakan keterampilan penting bagi generasi muda saat ini,” Ujar Muhammad Ihsan Anwar, selaku ketua kelompok Pendidikan Berkualitas 64.

Proyek ini mengusung salah satu topik SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin keempat yaitu “Pendidikan Berkualitas” dengan judul “Revolusi Literasi Digital: Pemanfaatan AI bagi Pelajar Sekolah Menengah Pertama di SMP Namira Islamic School Medan”

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan materi dalam bentuk PowerPoint yang menarik, interaktif, serta mengajak audiens berdiskusi melalui video edukasi. Pendekatan ini dipilih agar audiens lebih mudah memahami konsep dasar dan dampak penggunaan AI dalam dunia pendidikan maupun aktivitas harian mereka. Audiens terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan sosialisasi ini karena tidak hanya diberikan materi saja, tetapi juga diajak bermain mini games di sela penyampaian materi.

Kepala Sekolah SMP Namira Islamic School Medan, Ahmad Mursalin Tanjung, S.Pd.I., memberikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa USU. Beliau menyatakan, “Semoga melalui kegiatan ini, tidak hanya sebatas sosialisasi tentang revolusi literasi digital, tetapi dapat berdampak kepada siswa untuk menerapkannya di kehidupan sehari-hari dengan bijak dan tidak selalu bergantung pada AI”, ujarnya.

Kegiatan ini menunjukkan kolaborasi positif antara USU dan SMP Namira School dalam mengembangkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi. Sebagai bentuk luaran kegiatan, kelompok 64 juga menghasilkan dokumentasi audio visual berupa video edukasi yang dipublikasikan melalui platform digital sebagai bagian dari diseminasi program dan pelaporan MKWK Proyek sesuai dengan anjuran LIDA. Kegiatan ini menjadi bukti implementasi learning by doing, sekaligus menunjukkan komitmen USU dalam mendukung program dunia yaitu SDGs (Sustainable Development Goals) terkait peningkatan pendidikan.

Dengan terselenggaranya proyek ini, mahasiswa berharap dapat memberikan kontribusi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang melek digital, berkarakter kritis, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara positif dan produktif. Proyek ini juga diharapkan menjadi praktik baik yang dapat direplikasi pada kegiatan MKWK di lokasi lain dan inovasi yang baru.



Foto Kegiatan:

A group of people standing together

AI-generated content may be incorrect.A group of people posing for a photo

AI-generated content may be incorrect.

Mahasiswa USU Gelar Seminar Pemanfaatan Teknologi & Literasi untuk Tingkatkan Pola Pikir Siswa MAN 2 Medan

Mahasiswa Kelompok 62 Pendidikan Berkualitas Proyek MKWK USU bersama para siswa kelas XII F2 B MAN 2 Medan berfoto bersama usai pelaksanaan seminar, Rabu (22/10/2025).| Sumber Istimewa



LIDAKelompok 62 Proyek MKWK Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan seminar interaktif mengenai literasi teknologi dan berpikir kritis di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Medan, Rabu, (22/10/2025).

Seminar ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi teknologi siswa dalam menghadapi tantangan pembelajaran modern. Sebelum materi dimulai, mahasiswa USU memberikan pre-test guna melihat tingkat awal literasi digital dan kesadaran siswa terhadap penggunaan teknologi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah memiliki kesadaran digital yang baik, sehingga tim dapat menyesuaikan penyampaian materi dengan lebih tepat sasaran. Materi disampaikan secara energik, mencakup pemanfaatan teknologi untuk belajar, strategi memilah informasi kredibel, serta pentingnya literasi digital dalam membangun pola pikir kritis dan kreatif.

Kegiatan seminar dibuat interaktif melalui kuis, mini games, dan sesi tanya jawab yang membuat suasana lebih hidup. Bagian yang paling menarik bagi peserta adalah aktivitas “Detective Case”, yaitu pembelajaran berbasis studi kasus yang mengajak siswa menganalisis data, menentukan akar masalah, dan merumuskan solusi logis. Melalui sesi ini, siswa terlihat sangat antusias, aktif berdiskusi, bertanya, serta bekerja kolaboratif seolah memecahkan masalah nyata.

Ketua pelaksana, Calvin Chaidir, menyampaikan bahwa metode tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menerapkan kemampuan berpikir analitis dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan, “Kami ingin siswa bukan hanya tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara berpikir kritis dan analitis saat menggunakannya dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Mentor kegiatan, Nisrina Putri Suheri, turut memberikan apresiasi terhadap semangat belajar para siswa yang dinilai sangat aktif dan responsif. “Para siswa sangat aktif, responsif, dan mampu mengikuti proses analisis dengan baik. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi besar untuk bersaing di era digital.”

Pihak sekolah juga menyambut baik kegiatan ini karena sejalan dengan upaya MAN 2 Medan dalam membentuk siswa berprofil Pelajar Pancasila yang adaptif, kritis, dan cakap digital. Guru Bahasa Inggris MAN 2 Model Medan, Hartini Hutabarat, menilai sistem pembelajaran di sekolah tersebut sudah mengikuti perkembangan zaman. Ia mengatakan, “Fasilitas seperti speaker dan ponsel sudah digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran di kelas,” ujarmya.

Guru-guru juga menerapkan metode kreatif dengan mengirim link game terkait materi pelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa, sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa MAN 2 Medan telah memanfaatkan teknologi dan metode pembelajaran inovatif untuk meningkatkan minat serta pemahaman siswa sesuai tuntutan era modern.

Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah, konsumsi, penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta, serta sesi foto bersama. Kelompok 62 USU berharap program ini dapat membantu siswa lebih siap menghadapi perkembangan teknologi digital, mampu menyaring informasi secara bijak, dan berkembang menjadi generasi yang inovatif serta adaptif.

Dokumentasi Kegiatan: