Medan – Kelompok 7 Kesetaraan Gender mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) melaksanakan sosialisasi bertema “Kesetaraan Gender dan Pencegahan Sikap Misoginis” di SMA Negeri 1 Medan pada Senin, 27 Oktober 2025. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu sosial khususnya diskriminasi gender yang masih sering ditemui dalam kehidupan bermasyarakat.
Sosialisasi berlangsung melalui presentasi materi, ice breaking, dan diskusi interaktif. Sebanyak 36 siswa kelas XI terlibat aktif dalam bertukar pandangan mengenai pentingnya menghargai laki-laki dan perempuan secara setara.
Guru pendamping SMAN 1 Medan menjelaskan bahwa pihaknya telah menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam proses belajar mengajar.“Guru tidak pernah membedakan perlakuan antara siswa laki-laki dan perempuan. Semua mendapatkan kesempatan yang sama dalam diskusi dan penilaian,” ujarnya. “Kami juga menghindari stereotip seperti ‘perempuan hanya untuk domestik’. Bahasa yang digunakan pun harus menghormati semua siswa.”
Ia juga menyampaikan bahwa kesempatan berorganisasi terbuka luas bagi seluruh siswa.
“Di OSIS atau kegiatan lainnya, siapa pun bebas menjadi ketua tanpa melihat gender,” tambahnya.
Sekolah turut menciptakan lingkungan yang aman dan bebas kekerasan bagi seluruh siswa. “Ada Tim Penanganan Kekerasan yang bisa membantu jika muncul kasus kekerasan berbasis gender. Semua siswa berhak merasa nyaman,” tuturnya.
Ketua Kelompok 7 Kesetaraan Gender menilai pentingnya perubahan sikap yang lebih konkret dari siswa. “Kami berharap siswa tidak melakukan bullying berbasis gender dan berani melapor bila melihat diskriminasi,” ungkapnya. “Kami ingin mereka jadi agen perubahan dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberi contoh sikap saling menghargai.”
Salah satu siswa kelas XI juga menyampaikan pandangannya setelah mengikuti kegiatan. “Saya jadi sadar kalau bercanda yang merendahkan gender itu termasuk diskriminasi. Mulai sekarang harus lebih menghargai teman,” ucapnya.
Guru pendamping menyampaikan dukungan terhadap keberlanjutan edukasi terkait kesetaraan gender.
“Kami ingin ada pembinaan berkelanjutan. Aturan anti-diskriminasi juga akan terus kami perkuat agar tidak ada lagi ketidakadilan gender,” katanya.
Melalui sosialisasi ini, mahasiswa dan pihak sekolah berharap generasi muda mampu menolak segala bentuk diskriminasi berbasis gender serta membangun relasi yang saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini menjadi langkah kecil namun berarti dalam menciptakan ruang sosial yang aman dan setara bagi semua tanpa terkecuali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar