Sabtu, 06 Desember 2025

Sosialisasi Anti-Bullying USU di SMPN 7 Medan, Wujudkan Sekolah Aman



Kelompok MKWK 110 "Perundungan" USU Medan dalam rangka kegiatan sosialisasi anti perundungan di lingkungan SMPN 7 Medan, Sabtu (25/10/2025)


Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 110 Tanpa Perundungan Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan edukasi dan pelatihan anti bullying dan dampaknya pada kesehatan mental remaja di SMPN 7 Medan, Sabtu (25/10/2025).


Kelompok Proyek 110 Tanpa Perundungan terdiri dari 20 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan program studi di USU. Tsani Mahalli Barus, selaku Ketua Kelompok, menjelaskan bahwa perundungan merupakan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan dampak yang serius bagi kehidupan remaja. Oleh karenanya, kegiatan ini memberi manfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMPN 7 terhadap perundungan. 


“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa pentingnya edukasi tentang bahaya bullying dan dampaknya pada kehidupan dan cara bersosialisasi remaja. Dengan adanya sosialisasi dan pemaparan materi ini, kami berharap program ini dapat memberi dampak berkelanjutan bagi peningkatan pengetahuan dan kesadaran bagi adik-adik sekalian.” ujarnya


Program ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa SMPN 7 Medan dalam bertindak dan mengenali bentuk dan gejala bullying. Program ini juga mengingatkan agar para koruptor yang pernah atau sedang mengalami bullying tidak takut untuk bersuara dan meminta bantuan dari sekitar. Kegiatan ini didampingi oleh Febi Sesillia Sinurat selaku mentor. 


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Materi 2 yang disampaikan oleh pemateri yang membahas tentang upaya pencegahan dan penanganan bullying pada remaja,disertai sesi tanya jawab dan kuis. Setelah sesi materi berakhir, peserta mengerjakan post-test sebagai evaluasi dari keseluruhan pemahaman materi yang diberikan.


Menjelang akhir acara, panitia melakukan prosesi penyerahan hadiah kepada pemenang kuis dan pemenang game,konsumsi, serta foto bersama. Acara ditutup kembali oleh MC serta beberapa panitia dan dosen fasilitator. Tim BPH memberikan plakat kepada kepala sekolah SMPN 7 MEDAN sebagai tanda apresiasi dan penghargaan.Seluruh rangkaian kegiatan acara selesai dan berjalan dengan lancar.


Kepala Sekolah SMPN 7 Medan, Kepala Sekolah SMPN 7 Medan, Drs. Heppy Juriver Siregar, M.M., menyambut positif pelaksanaan program anti-perundungan di sekolahnya. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat demi menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif bagi remaja untuk bersosialisasi tanpa adanya perundungan."Program ini juga sangat penting karena dapat membantu siswa SMPN 7 Medan dalam memahami pentingnya toleransi dan sikap empati" tambahnya. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat nanti diimplementasikan secara efektif demi memperkuat karakter siswa.


Tulisan ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK 110 Perundungan USU dalam kegiatan sosialisasi anti-perundungan didampingi oleh Mentor: Febi Sesilia Sinurat dan Dosen Fasilitator: Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.


Berdasarkan hasil analisis pre-test dan post-test yang diberikan kepada 23 siswa peserta sosialisasi mengenai perundungan di lingkungan SMP Negeri 7 Medan, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa setelah mengikuti kegiatan sosialisasi.


Hasil tes pra-sosialisasi yang mencakup lima soal pengetahuan tentang perundungan. Pada pertanyaan tentang apa arti bullying siswa sudah memahami konsep sederhana pengertiannya, akan tetapi pada soal contoh tindakan bullying mayoritas hanya menyebutkan contoh perundungan verbal, fisik dan sosial seperti "mengejek teman" dan "memukul teman". Tidak ada siswa yang menyebutkan contoh cyberbullying, yang menunjukkan bahwa pemahaman mengenai bentuk perundungan berbasis teknologi masih rendah sebelum sosialisasi dilakukan.


Hasil tes pasca-sosialisasi dengan sistem pertanyaan pilihan ganda yang dianalisis berdasarkan rata-rata skor siswa dan soal yang paling banyak dijawab benar atau salah. Sebanyak sembilan soal yang mencakup materi perihal pengertian, bentuk, dampak, upaya dan peran orang tua, guru ataupun kebijakan penerapan anti-bullying menunjukkan bahwa secara keseluruhan (100%) siswa telah memahami materi dengan baik.


Namun, pada soal nomor 9 yang membahas teknologi pendeteksian cyberbullying menggunakan metode Machine Learning, dari total 23 siswa masih terdapat 8 siswa (35%) yang menjawab keliru, sementara 15 siswa (65%) menjawab benar. Hal ini menunjukkan bahwa materi terkait aspek teknologi dalam pencegahan bullying masih belum sepenuhnya dipahami oleh peserta dan memerlukan penguatan lebih lanjut karena tergolong topik baru bagi sebagian peserta.


Dengan demikian, hasil tes menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi ini berhasil meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta sikap positif siswa terhadap kegiatan, baik dari pemaparan sisi definisi, dampak, maupun upaya pencegahannya. Siswa telah mampu memahami isi sosialisasi dengan sangat baik, dengan rata-rata ketepatan jawaban mencapai 96,5%. Penulis berharap untuk peneliti berikutnya lebih memfokus dampaknya terhadap cyber bullying lebih diutamakan.

Pada saat pelaksanaan sosialisasi dimulai, sebagai permulaan siswa diberikan kertas pre-test berisikan soal-soal esai tentang perundungan sebagai uji coba untuk mengukur seberapa jauh pengetahuan mereka sebelum kegiatan. Setelah itu, dimulai lah materi tentang perundungan yang pertama dengan fokus pengenalan apa itu bullying, jenis-jenisnya, faktor serta dampaknya. Penyampaian materi disampaikan melalui metode presentasi dan pemutaran video animasi yang menampilkan contoh kasus perundungan dan menanyakan audiens atas apa yang mereka pahami dari yang sudah ditampilkan. Setelah sesi materi pertama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab serta kuis berhadiah. Pada sesi ini, pemateri berperan sebagai penanya untuk menguji tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan sekaligus menilai efektivitas penyampaian materi. Setelah sesi tanya jawab dan quiz selesai, panitia mengadakan ice breaking sebagai penyegaran suasana terhadap siswa/i SMPN 7 Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar