Selasa, 02 Desember 2025

Mahasiswa USU Kelompok 84 Gelar Edukasi Anti-Perundungan di LPKA Medan


Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Kelompok Perundungan 84 berhasil melaksanakan proyek pembelajaran MKWK melalui kegiatan sosialisasi bertema “Intoleransi sebagai Faktor Pendorong Perundungan pada Anak Binaan” di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, Sabtu (8/11/2025). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman anak binaan mengenai bahaya intoleransi dan dampak perundungan dalam kehidupan sosial mereka.


Proyek ini dilatarbelakangi tingginya kasus perundungan yang dipicu oleh perbedaan latar belakang, baik agama, budaya, maupun kondisi psikologis di lingkungan pergaulan anak. Mahasiswa menilai bahwa perilaku tersebut tidak hanya merugikan korban, tetapi juga menghambat proses pembinaan yang sedang dijalani anak binaan.


Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyampaikan materi mengenai jenis-jenis intoleransi, bentuk perundungan, penyebab munculnya perilaku agresif, serta strategi mencegah konflik. Anak binaan juga diajak berdiskusi dan mengikuti sesi tanya jawab untuk mengukur pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.


Sekretaris kelompok, Annisah Mufidah Sari, menjelaskan bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan pihak LPKA merupakan langkah penting dalam mendukung peningkatan kualitas pembinaan.


 “Kami ingin membantu anak binaan mengenali perilaku yang termasuk perundungan dan memberi mereka pemahaman bahwa intoleransi dapat memperburuk hubungan sosial. Harapannya, setelah sosialisasi ini mereka mampu menerapkan nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.


Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari dosen fasilitator Dr. Drs. Tunggul Sihombing, MA dan mentor Billah Syakira Rasyad Siregar. Pihak LPKA, melalui penanggung jawab pembinaan Purnama Lawi, menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi mahasiswa USU.


“Edukasi seperti ini sangat membantu proses pembinaan karena anak-anak sering kali menganggap perundungan sebagai hal biasa. Dengan adanya kegiatan ini, mereka jadi lebih paham batasan dan mampu membangun interaksi yang lebih sehat,” ungkapnya.


Hasil wawancara menunjukkan bahwa anak binaan umumnya memahami bahwa perundungan dapat memicu konflik dan merusak proses pembinaan. Mereka juga menyatakan kesediaan untuk berubah serta menerapkan sikap toleransi saat berinteraksi dengan sesama.


Pada akhir kegiatan, mahasiswa dan pihak LPKA melakukan dokumentasi bersama, sekaligus membahas rencana keberlanjutan program serupa untuk memperkuat pendidikan karakter di lingkungan pembinaan. Melalui proyek ini, mahasiswa USU mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan sikap empati, komunikasi, dan kolaborasi lintas peran, sejalan dengan tujuan pembelajaran MKWK berbasis proyek.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar