Rabu, 03 Desember 2025

Sosialisasi Anti Perundungan Kelompok 34 MKWK USU di Kelompok Belajar Seroja : Wujud Kepedulian Mahasiswa dalam Menciptakan Lingkungan Aman dan Inklus


Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara (USU) yang mengangkat tema Perundungan kembali dilaksanakan sebagai bagian dari implementasi pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan oleh Kelompok 34 MKWK Perundungan pada tanggal 25 oktober 2025 di Kelompok Belajar Seroja, sebuah komunitas belajar anak-anak di lingkungan masyarakat. Kegiatan ini merupakan upaya nyata mahasiswa USU untuk menumbuhkan kesadaran, empati, serta mendorong terciptanya ruang belajar yang aman dan bebas dari tindakan bullying.

Sosialisasi ini diikuti oleh 36 anak anggota Kelompok Seroja dengan penuh antusias. Kegiatan berlangsung sejak pukul 16.00 hingga selesai, diawali dengan pendekatan ringan melalui ice breaking serta perkenalan guna membangun kenyamanan dan kepercayaan antara mahasiswa dan peserta. Tahap ini menjadi fondasi penting agar materi mengenai perundungan dapat diterima dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Pada sesi inti, pemateri dari Kelompok 34 memberikan penjelasan mengenai berbagai bentuk perundungan, mulai dari verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying. Penyampaian dilakukan menggunakan contoh visual, cerita sederhana, dan tanya jawab interaktif agar lebih dipahami oleh anak-anak. Mahasiswa menekankan bahwa perundungan bukan hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, kepercayaan diri, dan perkembangan sosial korban.

Para peserta juga diberi penjelasan mengenai dampak perundungan bagi korban dan pelaku, termasuk risiko depresi, kecemasan, menurunnya prestasi, hingga perubahan perilaku. Penyampaian dibuat sederhana dan relevan sesuai bahasa anak-anak, sehingga mereka dapat menghubungkan materi dengan situasi yang mungkin terjadi di sekitar mereka. Tidak hanya menerima teori, anak-anak juga diajak mempelajari cara bertindak ketika melihat perundungan. Melalui sesi bystander intervention, peserta belajar berani mengatakan "stop", mencari bantuan orang dewasa, serta mendukung teman yang menjadi korban. Sesi ini menjadi salah satu bagian paling menarik karena anak-anak diajak mempraktikkan langsung melalui simulasi peran.



Untuk memperdalam empati, Kelompok 34 membuka sesi berbagi pengalaman. Beberapa peserta menceritakan pengalaman pribadi mereka terkait perundungan. Cerita-cerita ini menjadi bukti bahwa tindakan bullying masih sering terjadi, bahkan di lingkungan kecil masyarakat.

"Setiap kali saya mau ikut main, mereka suka ngejek cara saya ngomong. Kadang mereka sengaja ninggalin saya sendiri," ujar Angel, 10 tahun.

"Waktu itu saya lihat teman saya dibully. Saya takut, tapi saya maju bilang supaya mereka berhenti. Kalau saya diam, dia makin kesakitan," tutur Matthan, 11 tahun.

Dari 36 peserta yang mengikuti post-test setelah sosialisasi, 70% berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman mengenai jenis perundungan, dampaknya, serta cara menghindarinya.

Tidak hanya peningkatan pengetahuan, perubahan sikap positif juga mulai terlihat. Anak-anak mampu mengenali perilaku yang tergolong perundungan dan menunjukkan komitmen untuk tidak melakukannya, baik di lingkungan bermain maupun ruang digital.


Pelaksanaan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Kelompok 34 menyampaikan apresiasi kepada: Universitas Sumatera Utara (USU) yang memberikan ruang dan kepercayaan kepada mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat. Laboratorium Ilmu Dasar dan Umum (LIDA) yang memberikan persetujuan dan izin turun lapangan sehingga kegiatan berjalan tertib dan resmi.

Ibu Linda Zenita Simanjuntak, S.TP., M.Div., M.Th., selaku dosen pengampu, yang terus membimbing dari persiapan hingga evaluasi kegiatan. Bimbingan dan dukungan dari pihak kampus memberi semangat bagi mahasiswa untuk menjalankan proyek ini dengan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi.

Kegiatan sosialisasi anti-perundungan ini bukan sekadar pemenuhan tugas mata kuliah, tetapi menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa USU dalam membangun generasi muda yang lebih peduli, berempati, dan berani berkata tidak pada kekerasan.

Melalui edukasi, diskusi, dan interaksi langsung yang hangat, Kelompok 34 berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal untuk menciptakan budaya positif di Kelompok Belajar Seroja dan masyarakat sekitar.

Perundungan bukan hanya perlu dicegah, tetapi harus dihentikan bersama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar