Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang mengikuti Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) berhasil melaksanakan proyek pembelajaran berbasis edukasi di SMA Al-Azhar Medan. Kelompok 113 Perundungan USU mengedukasi para siswa tentang perundungan pada Senin, 27 Oktober 2025.
Di era pendidikan yang terus berkembang, lingkungan belajar yang aman dan menghargai sesama menjadi kebutuhan penting bagi siswa. Tantangan seperti perundungan masih sering terjadi dan dapat menghambat perkembangan karakter serta kesehatan mental siswa. Melalui program Project Based Learning pada mata kuliah MKWK, mahasiswa USU Kelompok 113 Perundungan mengadakan kegiatan sosialisasi dengan tema “Mewujudkan Lingkungan Kelas Bebas Perundungan Dengan Edukasi dan Resolusi Bersama di SMA Unggulan Al – Azhar Medan” sebagai upaya meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan keterampilan siswa dalam mengenali, mencegah, serta menyelesaikan tindakan perundungan secara sehat dan bertanggung jawab.
Pelaksanaan proyek dilakukan melalui berbagai tahapan mulai dari persiapan, koordinasi, hingga pelaksanaan edukasi di sekolah. Mahasiswa memberikan pemaparan mengenai definisi perundungan, jenis-jenisnya, faktor penyebab, serta dampaknya bagi siswa. Sosialisasi ini dilengkapi dengan kuis interaktif yang menguji pemahaman siswa, serta penugasan menulis pengalaman perundungan secara anonim sebagai bentuk pemetaan kasus nyata di lingkungan sekolah. Para mahasiswa juga menampilkan video drama edukasi yang menggambarkan situasi perundungan dan cara mengatasinya. Di akhir kegiatan, siswa memberikan cap jempol sebagai simbol komitmen bersama menciptakan sekolah yang aman dan bebas kekerasan. Seluruh proses kegiatan didokumentasikan sebagai bagian dari laporan akhir proyek.
Kegiatan yang didampingi oleh dosen pembimbing, Iis Sholihat Damanik, M.Pd, serta mentor Rosdiana Hutahaean itu mendapat respons positif dari siswa kelas X-F. Beberapa siswa mengakui pernah menjadi korban maupun pelaku perundungan, sebuah langkah awal yang menunjukkan kesadaran dan refleksi diri. Pemahaman siswa kelas X-F terkait perundungan juga meningkat, terlihat dari kemampuan mereka menjawab pertanyaan selama diskusi. Antusiasme siswa tampak sepanjang kegiatan, baik saat sesi tanya jawab maupun ketika menyaksikan video drama yang memvisualisasikan berbagai bentuk perundungan.
Kepala Sekolah SMA Unggulan Al-Azhar Medan, Eko Wibowo, M.Si., menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai keberadaan kotak aspirasi anonim serta forum diskusi terbuka memberi ruang aman bagi siswa untuk bercerita dan mencari bantuan tanpa takut dihakimi. “Kegiatan ini membantu siswa menyadari bahwa ejekan atau pengucilan dapat berdampak serius; kami berharap gerakan ini berlanjut sehingga budaya saling menghargai semakin kuat di sekolah,” ujarnya.
Ketua Kelompok 113, Muhammad Syabil Azhari, turut memberikan pernyataan terkait pelaksanaan program ini. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya memenuhi tugas akademik, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa terhadap lingkungan pendidikan. “Kami ingin siswa memahami bahwa perundungan bukan hal sepele. Dengan adanya pengakuan jujur dari beberapa siswa, kami melihat bahwa edukasi ini benar-benar menyentuh mereka. Harapan kami, setelah kegiatan ini, mereka lebih berani bersuara, berani menolak perundungan, dan lebih peduli satu sama lain,” ucapnya.
Selama pelaksanaan, siswa diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman pribadi melalui kotak suara anonim. Seorang siswa mengaku pernah ikut terlibat dalam tindakan perundungan karena tekanan lingkungan. Ia menuliskan bahwa awalnya hanya diam ketika melihat temannya dibully, namun lama-kelamaan ikut melakukannya karena takut dianggap pengecut atau menjadi sasaran berikutnya. Setelah mengikuti sosialisasi, ia mengaku menyesal dan menyadari bahwa diam dan ikut-ikutan sama saja dengan menyakiti teman sendiri. Sementara itu, seorang siswa lainnya menceritakan bahwa ia kerap menjadi korban perundungan verbal terkait penampilan. Meskipun pelaku menganggapnya sebagai candaan, ia merasa sangat tersakiti dan kehilangan rasa percaya diri. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini membuatnya merasa lebih didukung dan lebih berani melawan perundungan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, dapat disimpulkan bahwa sosialisasi anti-perundungan Kelompok 113 MKWK memberikan dampak positif bagi peningkatan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai. Partisipasi aktif siswa dalam diskusi, kuis, serta keberanian mereka mengisi kotak suara anonim menunjukkan bahwa perundungan masih menjadi persoalan yang perlu ditangani serius. Kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong siswa untuk lebih berani bersuara dan menolak perundungan. Komitmen anti-perundungan melalui cap jempol menjadi simbol kesiapan seluruh pihak untuk membangun suasana belajar yang positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar