Medan — Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Kesetaraan Gender 23 telah melaksanakan kegiatan Sosialisasi Proyek MKWK yang bertemakan kesetaraan gender di SMK Negeri 8 Medan, Senin (20/10/2025).
Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan untuk menjawab tantangan ketimpangan gender yang masih bermunculan di lingkungan sekolah, seperti stereotip jurusan, kepemimpinan dalam organisasi, pembagian tugas serta ketidakseimbangan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Topik ini diangkat sebagai bagian dari komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan Kelima tentang Kesetaraan Gender.
Kelompok kesetaraan gender 23 melakukan serangkaian persiapan sebelum melaksanakankegiatan sosialisasi di SMKN 8 Medan. Rangkaian persiapan yang dilakukan dimulai dari pembagian tugas antaranggota kelompok, koordinasi dengan pihak sekolah, penyusunan materi presentasi, penyusunan alur kegiatan agar kegiatan sosialisasi berjalan dengan baik, serta melakukan bimbingan bersama dosen fasilitator. Serangkaian persiapan yang dilakukan kelompok kesetaraan gender 23 ini juga selalu didampingi oleh mentor. Seluruh persiapan ini memastikan kegiatan sosialisasi dapat berlangsung maksimal.
Tujuan utama kegiatan sosialisasi ini untuk meningkatkan pemahaman siswa-siswi mengenai konsep kesetaraan gender, menumbuhkan empati, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan pendidikan yang inklusif. Kegiatan ini didampingi oleh Drs. Syafril Barus, MA selaku dosen fasilitator dan Sovi Rumondang Sitanggang selaku mentor.
“Dengan hadirnya kami disini dalam rangka melaksanakan sosialisasi ini, saya berharap sosialisasi ini tidak hanya sekadar formalitas untuk memenuhi tugas kami, tetapi juga sosialisasi ini dapat memperkuat pemahaman mengenai kesetaraan gender di kalangan siswa/siswi untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman serta nyaman dan suportif” Ujar Ketua Kelompok Kesetaraan Gender 23, Erin Salbiyah.
Kepala Sekolah SMKN 8 Medan, Wilma Handayani, S.Pd, M.Si, menyambut hangat kehadiran mahasiswa/mahasiswi dalam melaksanakan kegiatan ini. Dalam kata sambutan Beliau menyampaikan bahwa kesetaraan gender ini bukan hanya masalah laki-laki dan perempuan, melainkan pemahaman dalam pemenuhan hak yang setara.
Kelompok Kesetaraan Gender 23 melaksanakan kegiatan ini dengan memaparkan materi mengenai penguatan pemahaman kesetaraan gender mulai dari apa itu arti kesetaraan gender, isu kesetaraan gender dalam dunia pendidikan, stereotip dan dampak psikosial, serta peran guru dan keterlibatan orang tua.
Wawancara yang dilakukan kepada siswa/siswi mengungkap pengalaman diskriminasi yang mereka alami. Salah satu siswa laki-laki mengaku pernah mendapat pertanyaan diskriminatif ketika memilih jurusan Tata Boga. Ia ditanya mengapa laki-laki memilih jurusan tersebut. Hal ini menunjukkan stereotip terkait peran gender masih terjadi di lingkungan sekolah.
“Saya ditanya kenapa laki-laki masuk Tata Boga. Pertanyaan itu membuat saya sempat ragudengan pilihan saya ini,” ungkap salah satu siswa.
Sementara itu ada juga siswa lain menyampaikan bahwa mereka belum pernah melihat maupun mengalami diskriminasi gender dan berharap situasi seperti itu tidak akan terjadi di masa depan. Mereka juga menyadari pentingnya mencegah hal tersebut agar semua siswa/siswi merasa aman dan dihargai. Perbedaan pengalaman dari siswa/siswi memperlihatkan bahwa meskipun sebagian siswa belum pernah mengalami diskriminasi secara lansung, stereotip dan bias gender masih bisa muncul dalam beberapa situasi.
Program sosialisasi ini diharapkan menciptakan efek yang luas di lingkungan keluarga dan masyarakat, terutama di lingkungan sekolah. Kemampuan siswa mengenali dan menolak diskriminasi gender berpotensi mengurangi kasus kekerasan berbasis gender di sekolah sekaligus meningkatkan rasa aman dan kenyamanan belajar bagi seluruh siswa.
https://youtu.be/BVPOTA6K2ns

Tidak ada komentar:
Posting Komentar