LIDA - Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Kelompok 57 Perundungan Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) sukses melaksanakan proyek bertajuk "Membangun Kesadaran Siswa Kelas 10 terhadap Bahaya Cyberbullying" di SMA Harapan Mandiri Medan, Sabtu (18/10/25).
Kegiatan ini diikuti oleh 35 siswa kelas 10 dan menghasilkan inovasi berupa peluncuran sistem pengaduan berbasis digital serta konten edukasi kreatif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan dunia maya.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya interaksi sosial pelajar di ruang digital yang sering kali memicu tindakan agresif seperti ejekan di grup percakapan hingga komentar negatif di media sosial. Selain itu, kondisi pendidikan Indonesia saat ini juga dihadapkan pada tantangan besar berupa 3 Dosa Besar Pendidikan, yaitu kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Ketiga permasalahan ini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan dan tumbuh kembang siswa, khususnya perundungan di ruang digital yang terus meningkat seiring intensitas penggunaan media sosial oleh remaja.
Ketua Pelaksana, Fahriel Ahmad Passandaran, menjelaskan bahwa pendekatan edukatif dan solusi teknis diperlukan agar siswa memahami etika bermedia sosial, mampu berinteraksi secara bertanggung jawab, dan berani melawan perundungan. Kondisi tersebut menegaskan perlunya tindakan preventif yang sistematis, kreatif, dan mudah dijangkau oleh siswa.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa USU menerapkan metode interaktif yang meliputi sosialisasi materi, sesi tanya jawab, dan permainan kelompok (games) untuk melatih kekompakan serta empati siswa. Salah satu inovasi utama dalam proyek ini adalah pengadaan "Pesan Rahasia Berbasis Digital.”
"Program pengaduan berbasis digital ini adalah kegiatan yang sangat penting untuk menyediakan wadah pelaporan yang mudah, cepat, dan aman. Melalui sistem ini, siswa dapat melaporkan tindakan cyberbullying yang terjadi sehingga dapat segera ditindaklanjuti secara tepat," ujar Fahriel selaku Ketua Kelompok 57 Perundungan.
Penerapan inovasi Pesan Rahasia sebagai metode survei awal terbukti efektif dalam mengungkap kondisi riil di lapangan. Melalui metode ini, tercatat 28,57% siswa kelas 10 akhirnya berani mengakui pernah menjadi korban perundungan. Menindaklanjuti temuan tersebut, selain menyediakan sistem pelaporan, Kelompok 57 Perundungan juga mengajak siswa SMA Harapan Mandiri bergerak aktif menjadi kreator konten edukasi melalui pembuatan poster anti-cyberbullying.
Menutup rangkaian kegiatan, tim pelaksana menyampaikan harapan besar terhadap keberlanjutan program ini bagi iklim akademik di sekolah mitra.
"Diharapkan upaya pencegahan perundungan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, peduli, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," tambah perwakilan tim dalam pernyataan penutup laporan kegiatan.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan penuh dari Dosen Pengampu, Ance Marintan D. Sitohang, SP., M.Div., M.Th., serta Mentor Salsabila Dwi Andika Sitompul. Kehadiran para fasilitator ini memperkuat kolaborasi antara mahasiswa dan pihak sekolah dalam membangun kesadaran digital yang bertanggung jawab. Melalui sinergi tersebut, program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan satu hari, tetapi terus berlanjut sebagai upaya berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya saling menghargai, peduli, dan berani melawan perundungan di lingkungan SMA Harapan Mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar