LIDA - Mahasiswa Kelompok 6 Disabilitas dari Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara melaksanakan program inklusi bertema “From Imperfect to Perfect” di SLB Negeri Pembina Medan pada 27–28 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan rangkaian aktivitas kreatif dan interaktif untuk memperkuat pemahaman kesetaraan serta meningkatkan kepercayaan diri siswa berkebutuhan khusus. Program ini menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan 20 mahasiswa lintas program studi.
Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan konsep kesetaraan serta mendorong penerimaan diri bagi siswa berkebutuhan khusus melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan. Program ini diikuti oleh 20 siswa jenjang SMP dan SMA.
Program ini merupakan bagian dari proyek MKWK yang dirancang oleh 20 mahasiswa dari berbagai program studi dan didampingi oleh mentor, Marisa Rompis. Kegiatan ini menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi dan keunikannya masing-masing, serta bahwa kesempurnaan tidak diukur dari tiadanya kekurangan, melainkan dari kemampuan seseorang menerima dan mengembangkan dirinya.
Pada hari pertama kegiatan, mahasiswa mengawali dengan ice breaking untuk mencairkan suasana dan membantu siswa merasa nyaman. Setelah itu, mahasiswa menyampaikan materi mengenai kesetaraan dan penerimaan diri menggunakan gambar serta media visual lainnya. Pesan utama yang dibawa adalah bahwa perbedaan bukan penghalang untuk belajar dan beraktivitas bersama.
Setelah penyampaian materi, mahasiswa mengajak siswa mengikuti kegiatan kreatif seperti menghias pot, membuat cap jari, dan menyusun karya masing masing. Aktivitas ini memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri sesuai gaya dan kemampuan masing-masing. Mahasiswa mendampingi secara santai tanpa menuntut hasil yang seragam, sehingga siswa dapat menikmati prosesnya dan merasa dihargai.
Pada hari kedua, kegiatan berlangsung dalam suasana yang lebih akrab karena hubungan antara mahasiswa dan siswa telah terbangun. Mahasiswa mengajak bernyanyi, bermain, dan mengikuti beberapa kegiatan motorik. Aktivitas membuat gelang dan menyusun mading menjadi bagian yang paling diminati, karena siswa dapat melihat hasil karya mereka sendiri. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa seperti rangkaian manik-manik, setiap perbedaan memiliki tempat dan dapat membentuk sesuatu yang indah ketika disatukan.
Selama dua hari kegiatan, siswa terlihat semakin percaya diri dan terbuka. Mahasiswa Kelompok 6 Disabilitas juga mendapatkan pengalaman langsung mengenai cara memahami karakter dan kebutuhan setiap anak, terutama dalam konteks pendidikan inklusi.
Ketua Kelompok 6 Disabilitas, Rangga Syaputra, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru tentang cara berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus. “Kami ingin menunjukkan bahwa semua anak itu setara. Mereka punya cara masing-masing untuk memahami dan berkarya. Dua hari bersama mereka membuat kami belajar bahwa penerimaan diri itu sangat penting,” ujarnya.
Guru pendamping SLB,Widi, menilai kegiatan mahasiswa berjalan dengan baik dan sesuai kebutuhan siswa.
“Mahasiswa mahasiswi terbuka dan sabar mendampingi anak-anak. Mereka membawa kegiatan yang sederhana namun bermanfaat, dan anak-anak terlihat menikmati setiap prosesnya,” tuturnya.
Kegiatan MKWK Kelompok 6 Disabilitas ini memberikan pengalaman berharga bagi kedua belah pihak. Siswa mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus memahami nilai kesetaraan, sementara mahasiswa dapat menerapkan nilai BINTANG USU seperti empati, toleransi, dan kerja sama secara nyata. Program ini diharapkan dapat berlanjut sebagai bentuk kolaborasi untuk mendukung pendidikan inklusif dan ramah bagi semua anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar