Kelompok MKWK 11 "Kesetaraan Gender" USU pada saat memaparkan materi sosialisasi terkait internalisasi nilai kesetaraan gender untuk mengembangkan sikap empati, toleransi, dan kepemimpinan inklusif pada remaja kepada siswa SMA Negeri 2 Medan, Senin (27/10/2025).| Sumber Istimewa
MEDAN — Mahasiswa Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Kelompok 11
Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan sosialisasi mengenai kesetaraan gender
kepada 36 siswa kelas XII di SMA Negeri 2 Medan, Senin (27/10/2025).
Kegiatan ini dilatarbelakangi temuan mahasiswa bahwa masih muncul bentuk bias gender di lingkungan sekolah, terutama dalam pembagian tugas dan stereotip mengenai kemampuan berdasarkan jenis kelamin. Untuk menjawab persoalan tersebut, mahasiswa merancang rangkaian aktivitas meliputi pemaparan materi, ice breaking, kuis interaktif, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Materi menekankan perbedaan peran kodrati dan peran sosial, contoh ketidaksetaraan di lingkungan pendidikan, serta praktik sederhana perilaku adil dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Melalui diskusi kelompok, beberapa siswa mengungkap pengalaman pribadi seperti candaan bernuansa gender dan anggapan bahwa laki-laki lebih layak memimpin. Mahasiswa menanggapi dengan penjelasan dan contoh kontekstual yang relevan dengan kehidupan mereka. Hasil kuis menunjukkan sebagian besar siswa memahami kembali konsep kesetaraan gender setelah kegiatan berlangsung.
Dosen fasilitator, Dra. Sabariah Bangun, menyampaikan bahwa pendidikan kesetaraan gender penting diberikan sejak remaja. “Pemahaman mengenai kesetaraan gender perlu ditanamkan sejak dini agar siswa mampu menciptakan lingkungan yang menghargai perbedaan,” ujarnya.
Seorang siswa peserta menambahkan bahwa kegiatan tersebut membuatnya lebih sadar bahwa tindakan kecil dapat berdampak pada kenyamanan orang lain. “Kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh kakak-kakak dan abang-abang mahasiswa USU membuat saya sadar bahwa tindakan kecil seperti pembagian tugas yang tidak seimbang dapat berdampak pada kenyamanan orang lain,” ujarnya.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar bermakna. Mereka dilatih menyusun materi edukatif, mengelola dinamika kelas, serta menghadapi berbagai situasi lapangan. Kolaborasi dengan mentor dan pihak sekolah memastikan alur kegiatan berjalan efektif. Suasana yang dibangun mahasiswa juga membuat siswa yang awalnya pasif menjadi lebih percaya diri untuk berbicara.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai sosialisasi seperti ini dapat membantu membangun lingkungan belajar yang lebih adil bagi seluruh siswa. Mahasiswa MKWK USU berharap materi yang disampaikan dapat mendorong perubahan sikap dalam interaksi sehari-hari. Melalui kegiatan ini, mereka menegaskan komitmen untuk terus berkontribusi dalam isu pendidikan dan pengembangan karakter remaja.
Berita ini di terbitkan oleh Suara USU.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar