Kelompok MKWK 17 “Perundungan” USU sebelum menyampaikan
penyuluhan materi tentang anti perundungan kepada siswa/i
SD Swasta Nasrani 1 Medan, Sabtu (25/10/2025),| Sumber Istimewa
Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa yang tampak aktif mengikuti sesi interaktif, permainan edukatif, dan pemaparan materi tentang bahaya perundungan dan pentingnya sikap empati. Tujuannya adalah menanamkan kesadaran sejak dini mengenai bentuk-bentuk perundungan, dampak negatifnya, dan bagaimana menjadi seorang 'penolong' bukan hanya penonton jika melihat atau mengalami perundungan.
SD Swasta Nasrani 1 Medan dikenal sebagai salah satu sekolah yang memiliki lingkungan yang suportif. Sekolah ini tidak memiliki catatan riwayat perundungan serius. Meskipun demikian, Kepala Sekolah menyambut baik inisiatif mahasiswa/i USU sebagai langkah preventif dan penguatan karakter. Kepala SD Swasta
Nasrani 1 Medan, Simonang Tua Simamora menyampaikan rasa syukurnya atas kondisi sekolah tersebut.
“Semua anak-anak disini di bina dengan kasih dan nilai-nilai kristiani, sehingga kasus perundungan nyaris tidak pernah terjadi, ya kalau pertengkaran kecil mungkin pasti terjadi sebagaimana anak kecil yang bertumbuh bersama di satu atap mustahil tidak ada pertikaian-pertikaian kecil, itu bagian dari pertumbuhan mereka dan disini kami pastikan pertikaian tersebut tidak akan berangsur lama dan tidak akan memancing adanya kasus perundungan,” ucapnya.
Kegiatan penyuluhan ini dilihat sebagai upaya proaktif untuk memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman di tengah maraknya kasus perundungan di media sosial.
“Saya sangat senang dengan program USU ini karena selain memberi pengetahuan baru dan membuka pola pikir anak-anak, kegiatan ini juga menambah pengalaman serta kemampuan komunikasi mahasiswa, sehingga saya berharap program anti-perundungan ini terus berlanjut dan berdampak pada berkurangnya kasus perundungan,” tambahnya.
Para mahasiswa/i berharap kegiatan serupa dapat berlanjut dan menyentuh lebih banyak sekolah dasar di Medan, demi mewujudkan lingkungan belajar yang benar-benar aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Mereka menilai bahwa edukasi anti-perundungan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai empati, toleransi, serta keberanian untuk saling melindungi dapat tertanam kuat sejak usia dini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar