LIDA - Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang mengikuti proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) dari Kelompok 53 melaksanakan proyek pencegahan perundungan di SMP Negeri 41 Medan, Selasa (4/11/2025).
Kegiatan ini berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran siswa terkait perundungan yang selama ini sering dianggap sebagai bagian dari candaan sehari-hari. Kelompok 53 Perundungan memilih SMP Negeri 41 Medan sebagai mitra karena sekolah membuka ruang bagi program edukasi yang membantu siswa memahami batas perilaku sosial yang sehat.
Proyek dilaksanakan melalui beberapa aktivitas utama seperti penyampaian materi bullying, diskusi partisipatif, pemutaran video edukasi yang dibuat oleh kelompok, serta kegiatan pengisian anonymous box. Dari 58 siswa kelas VIII yang hadir, seluruhnya mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Anonymous box menjadi bagian yang paling memberikan gambaran nyata. Siswa menuliskan pengalaman sebagai korban, pelaku, maupun saksi, serta membuat surat slogan anti perundungan. Salah satu surat berbunyi: “Teruntuk teman-teman siapa pun itu, jangan pernah membully ya. Karena kasihan teman yang dibully. Untuk teman-teman yang masih suka membully, jangan membully lagi ya.”
Pihak sekolah, John Glora Pelawi, menyambut baik dan memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini. “Sosialisasi anti perundungan seperti yang kalian lakukan itu sangat penting dan benar-benar berguna bagi kami di SMP Negeri 41 Medan. Banyak siswa sebenarnya tidak sadar bahwa perilaku mereka sudah termasuk perundungan. Setelah dijelaskan oleh mahasiswa, mereka jadi lebih paham mana yang masih sebatas bercanda dan mana yang sudah termasuk perundungan. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan, supaya anak-anak terus diingatkan tentang bahaya dan dampak perundungan. Jadi dengan adanya kegiatan sosialisasi mahasiswa, ini sangat membantu kami para guru agar anak-anak tahu apa-apa saja yang termasuk perundungan itu dan hendaknya harapan kita supaya anak-anak tidak melakukan yang termasuk perundungan tersebut,” ucapnya.
Menurut Feldicio Ginting selaku ketua kelompok , kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan informasi, tetapi juga membuka ruang aman bagi siswa untuk jujur tentang pengalaman sosial mereka dan memahami dampaknya bagi teman sebaya.
Proyek ini memberi pengalaman langsung bagi siswa dan membuka dialog yang sehat tentang perilaku saling menghargai di sekolah. Pendekatan partisipatif yang digunakan membuat siswa lebih aktif, responsif, dan berani bertanya. Agar pendidikan anti perundungan tidak berhenti pada satu sesi, kegiatan seperti ini layak diteruskan dengan dukungan sekolah. Selain itu, program ini memperkuat nilai-nilai MKWK USU, seperti pembelajaran yang relevan, peduli, dan berdampak pada lingkungan sekitar.
Dokumentasi Kegiatan
https://youtu.be/pdlzU-hSqbo?si=w9AtrwUIGUzRFg1a

Tidak ada komentar:
Posting Komentar